Rabu, 22 Mei 2019

Pembelajaran yang Efektif
Perencanaan Pembelajaran yang Efektif.
A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran.
       Perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan saling menunjang antara berbagai unsur atau komponen yang ada didalam pembelajaran atau dengan pengertian lain, yaitu suatu proses mengatur, mengkoordinasikan, dan menetapkan unsur-unsur atau komponen-komponen pembelajaran.
B. Komponen perencanaan pembelajaran.
       1. Pada hakikatnya merupakan arah dari suatu program berupa tujuan pembelajaran yang istilah dalam kurikulum berbasis kompetensi disebut kompetensi.
       2. Berkenaan dengan isi atau materi yang harus diberikan untuk mencapai tujuan/kompetensi tersebut.
       3. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan, dan
        4. Berkenaan dengan penilaian yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran.
C. Prinsip Perencanaan Pembelajaran.
       Dalam buku sri anitah (2008:12.8) terdapat prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran yaitu:
     1. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kondisi siswa.
     2. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
     3. Perencanaan pembelajaran arus memperhitungkan waktu yang tersedia.
    4. Perencanaan pembelajaran harus merupakan urutan kegiatan belajar yang sistematis.
  5. Perencanaan pembelajaran bila perlu lengkapi dengan lembaran kerja tugas dan atau lembar observasi.
 6. Perencanaan pembelajaran harus bersifat pleksibel.
 7. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan pada pendekatan sistem yang mengutamakan keterpaduan antara tujuan/kompetensi, materi, kegiatan belajar dan evaluasi.
D.  Prosesur Perencanaan pembelajaran.
        1. Penyusunan silabus
                 Silabus merupakan produk utama dari pengembangan kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang harus memiliki keterkaitan dengan produk pengembangan kurikulum lainnya yaitu proses pembelajaran. Pengembangan silabus tersebut diharapkan dapat memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
             a. Ilmiah dalam arti bahwa penetapan isi silabus harus memenuhi kebenaran ilmiah dan teruji kesahihannya jika memungkinkan perlu melibatkan ahli mata pelajaran.
              b. Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa dalam penetapan cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian isi/materi dalam silabus.
              c. Sistematis dalam arti bahwa komponen-komponen yang terdapat dalam silabus merupakan satu kesatuan yang paling berhubungan satu sama lain untuk mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan.
              d. Konsisten minsalnya antara kompetensi yang di harapkan dicapai dengan penetapan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa.
             e. Adekuat dalam arti bahwa cakupan/ruang lingkup materi yang di pelajari siswa cukup memadai untuk menunjang tercapainya penguasaan suatu kompetensi.
     2. Penyusunan Rencana/satuan Pembelajaran.
                Rencana pembelajaran adalah satuan unit program pembelajaran terkecil untuk jangka waktu mingguan atau harian yang berisi rencana penyampain suatu pokok atau satuan bahasa tertentu dalam satu mata pelajaran.
 Unsur-unsur pokok terkandung dalam rencana/ satuan pembelajaran meliputi berikut:
         a. Identitas mata pelajaran.
         b. KD dan indikator yang hendak dicapai.
         c. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
         d. Strategi pembelajaran.
         e. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian KD.
         f. Penilaian dan tindak lanjut.
Pembelajaran yang Efektif.
A. Hakikat pembelajaan efektif.
        Dalam buku Sri Anitah(2008:12.19)Perencanaan pembelajaran berkenaan dengan keputusan yang diambil guru dalam mengorganisasikan, mengimplentasikan, dan mengevaluasi hasil pembelajaran (Burden dan Byrd, 1999). Perencanaan merupakan tugas yang sangat penting dilakukan oleh guru.
      Tujuan perencanaan adalah memberi jaminan pebelajar akan belajar dengan baik. Oleh karena itu, perencanaan membantu menciptakan mengelola, dan mengorganisasikan peristiwa-peristiwa pembelajaran yang memungkinkan kegiatan belajar terjadi. Jumlah waktu yang dibutuhkan dalam merencanakan pembelajaran sangat tergantung pada individu guru.
B. Faktor-Faktor yang Berkaitan Dengan kegiatan pembelajaran.
1. Isi pelajaran berkaitan dengan pengetahuan, ketrampilan, aturan dan konsep atau proses kreatif yang akan dipelajari.
      2. Bahan pelajaran berwujud tulisan, bentuk fisik atau stimuli visual yang digunakan dalam pembelajaran.
      3. Strategi pembelajaran pemilihan berbagai strategi pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan isi pembelajaran merupakan perencanaan sentral guru.
     4. Perilaku guru Guru melakukan sejumlah kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung dan membantu pebelajar dalam kegiatan-kegiatan belajar.
   5. Menstrukturkan Pelajaran menyusun pelajaran berkaitan dengan kegiatan yang terjadi pada suatu saat tertentu selama penyajian pelajaran dan guru perlu merencanakan struktur pelajaran.
   6. Lingkungan belajar ketika kegiatan-kegiatan belajar direncanakan, pertimbangkan jenis lingkungan belajar yang diciptakan.
   7. Durasi pembelajaran buat perencanaan waktu yang tersedia atau dialokasikan.
   8. Lokasi pembelajaran rencanakan ditempat dimana pembelajaran itu akan terjadi.
C. Karakteristik Guru.
      Keputusan perencanaan tentang kegiatan-kegiatan pembelajaran, dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri ( Neely & Hansford, 1985) Dalam buku Sri Anitah (2008:12.21) yaitu:
1. Banyaknya pengalaman menajar guru akan mempengaruhi keputusan perencanaan.
2. Filosofi belajar-mengajar akan mempengaruhi keputusan tentang perencanaan guru.
3. Pengetahuan guru tentang isi pelajaran, juga mempengaruhi keputusan tentang perencanaan.
4. Gaya guru dalam mengorganisasikan pembelajaran akan mempengaruhi keputusan perencanaan.
5. Harapan-harapan menata kelas, baik untuk pebelajar belajar maupun pelaksanaan pembelajaran oleh guru itu sendiri juga mempengaruhi keputusan tentang perencanaan.
6. Perasaan aman dan kontrol pembelajaran memainkan peranan dalam proses perencanaan.
D. Guru yang Efektif.
      a. Melakukan reviu harian.
              Untuk menentukan apakah belajar telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan prasyarat yang diperlukan.
    b. Menyiapkan materi baru
               Hasil riset menunujukan bahwa yang efektif memerlukan waktu yang lebih banyak dalam menyajikan meteri baru dan membimbing praktik dibandingkan guru yang kurang efektif.
  C. Melakukan praktik terbimbing
             Adalah membimbing praktik keterampilan awal belajar dan menyediakan penguatan yang perlu untuk kemajuan belajar baru dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.
  d. Menyediakan balikan dan koreksi.
            Selama praktik terbimbing bagi guru sangat penting untuk menyediakan proses balikan pada pebelajar.
E. Pendekatan pembelajaran yang efektif.
     1. Belajar mandiri ( idependent learning).
              Pembelajaran kovensional maupum pembelajaran inovatif meminta pebelajar meluangkan waktu dengan propersi yang signifikan untuk mengatur kegiatan belajar masing-masing.
    2. Pembelajaran Terpadu (integrated learning)
              Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran untuk mencapai keterampilan-keterampilan belajar sepanjang hayat.
    3. Pendekatan berbasis masalah
              Belajar berbasis masalah (BBM) adalah belajar yang berpusat pada pebelajar dan juga mengambarkan metode belajar ini atau suplemen pembelajaran.

Daftar Rujukan
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Disiplin Kelas
A. Hakikat Disiplin Kelas.
       Disiplin berarti ketaatan terhadap aturan, baik aturan untuk umum maupun kelompok tertentu, dan bahkan aturan yang kita buat untuk diri kita sendiri. Menurut Turney & Cairns (1980) dalam buku sri anitah (2008:11.6) diungkapkan definisi disiplin yaitu:
Pertama, disiplin diartikan tingkat keteraturan yang terdapat pada satu kelompok.
Kedua, disiplin kelas diartikan sebagai teknik yang digunakan oleh guru untuk membangun atau memelihara keteraturan didalam kelas.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kelas.
     1. Faktor Fisik
           Disiplin kelas dilandasi oleh adanya interaksi guru-siswa dalam konteks (hubungan) kelas maka faktor fisik yang mempengaruhi disiplin kelas juga mencakup guru, siswa, dan ruang kelas.
    2. Faktor sosial
            Hubungan antara guru-siswa dan tentunya siswa dengan siswa terjadi didalam kelas.
   3. Faktor psikologis
            Faktor psikologis atau kejiwaan juga dianggap sangat berpengaruh pada tingkat kedisiplinan siswa. Faktor psikologis mencakup, antara lain perasaan (seperti sedih, senang, marah, bosan, benci) dan kebutuhan seperti keinginan untuk dihargai, diakui, dan disayangi)
C. Strategi Penanaman dan Penanganan Disiplin Kelas.
       1. Pandangan yang menyatakan bahwa guru harus berusaha agar siswa mengerjakan apa yang diinginkan guru.
      2. Menurut Kohn (1996) dalam buku sri anitah(2008)  menegaskan bahwa guru seharusnya mulai dengan pertanyaan " apa yang diperlukan oleh anak-anak, dan bagaimana cara saya untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
     3. Pandangan yang berfokus pada kebutuhan siswa ini tampaknya senada dengan pandangan yang diulas oleh Winzer (1995), dalam buku sri anita(2008:11.21) yang menyatakan bahkan pendekatan yang berhasil dalam membangun disiplin adalah pendekatan yang menghormati hak individu, mendorong peningkatan bahwa pendekatan yang menghirmati hak individu, mendorong peningkatan konsep diri siswa, serta memupuk kerja sama.
     4. Pandangan humanistik adalah pandangan yang menekankan kemanusian
     5. Pandangan terakhir yang perlu kita simak adalah pandangan kaum behavioris, yang berpendapat bahwa perilaku dapat dipelajari dan dikontrol.
D. Strategi Penanaman Disiplin kelas.
        1. Modelkan tata tertib yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Contoh nyata alat mengajar dan mendidik yang terbaik, terutama bagi anak-anak SD. Melalui model atau contoh yang diperlihatkan oleh guru, anak-anak akan dapat melihat langsung perilaku, keterampilan, dan sikap yang dianjurkan.
       2. Adakan pertemuan kelas secara berkala, terutama jika ada aturan yang perlu ditinjau kembali.
       3. Terapkan aturan secara fleksibel (luwes) sehingga siswa tidak merasa tertekan.
       4. Sesuaikan penerapan aturan dengan tingkat perkembangan anak.
       5. Libatkan siswa dalam membuat aturan kelas.
E. Strategi Penaganan Disiplin Kelas.
      1. Menangani gangguan ringan.
            Gangguan-gangguan ringan ini jika dibiarkan mungkin akan berkembang memjadi gangguan berat. Untuk mengatasi gangguan ringan berbagai strategi/teknik dapat anda terapkan yaitu:
            a. Mengabaikan.
            b. Menatap agak lama.
            c. Menggunakan tanda nonverbal.
            d. Mendekati.
            e. Memanggil nama.
            f. Mengabaikan secara sengaja.
  2. Menangani gangguan berat.
          Adalah pelanggaran yang dilakukan siswa yang dapat mempengaruhi siswa lain atau mengganggu jalannya pelajaran. Strategi yang dimukakan oleh Winzer (1995) dalam buku sri anitah(2008) yaitu:
           a. Memberikan hukuman.
          b. Melibatkan orang tua.
 3. Menanggani Perilaku Agresif.
                Adalah perilaku menyerang yang ditunjukan oleh siswa didalam kelas.
           a. Mengubah/ menukar teman duduk.
           b. Perselisihan yang tidak perlu.
           c. Hindarkan diri dari mengucapkan kata-kata yang kasar atau yang bersifat menghina.
           d. Konsultasi dengan pihak lain.



Daftar Rujukan
- Anitah Sry, dkk. 2008. Strategi pelajaran SD. Jakarta: Universitas Terbuka.


       

Rabu, 15 Mei 2019

Pengelolaan kelas

A. Hakikat pengelolaan kelas.
  Dalam buku Sri Anitah (2008:10.4) bahwa Pendekatan permisif menyatakan pengelolaan kelas adalah kegiatan guru dalam memaksimalkan kebebasan siswa. Peran guru adalah membantu siswa merasakan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan kapan pun mereka mau(Weber, 1977).
  Menurut Weber (1977) dalam buku Sri Anitah (2008:10.5-10.6) yaitu:pertama, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku yang tidak diharapkan. Berdasarkan pendekatan modifikasi tingkah laku peran guru dalam pengelolaan kelas adalah membantu siswa mempelajari tingkah laku yang diharapkan melalui penerapan prinsip-prinsip yang berasal dari teori penguatan. Kedua, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas positif. Pendekatan ini, peran guru dalam pengelolaan kelas adalah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui penciptaan hubungan interpersonal yang sehat, baik antara guru dan siswa maupun antara siswa dan siswa. Ketiga, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang efektif. Pendekatan proses kelompok peran guru disini adalah membantu mengembangkan dan melaksanakan sistem kelas yang efektif.
   Pengelolaan kelas adalah serangkaian tindakan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tiak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif atau secara singkat: pengelolaan kelas adalah usaha guru untuk menciptakan, memelihara, dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif.
    Menurut Winzer(1995) dalam buku Sri Anitah (2008:10.8) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
B. Perbedaan pengelolaan kelas dari pembelajaran.
         Dalam buku sri anitah (2008:10.8) perbedaan ini dapat kita lihat dari masing-masing tujuan pengelolaan kelas dan tujuan pembelajaran yaitu pengelolaan kelas bertujuan untuk menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan berlasungnya proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan pembelajaran mempunyai tujuan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.
C. Pentingnya Pengelolaan Kelas Dalam Proses Pembelajaran.
          Dalam uraian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa mencapau tujuan pembelajaran dan pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat terciptanya pembelajaran yang efektif.

Penataan lingkungan kelas

A. Penataan Lingkungan Fisik Kelas.
          Pengelolaan kelas yang efektif bermula dari penataan ruangan kelas dan isinya. Apa yang sebaiknya dilakukan guru dalam menata ruangan kelas dan isinya sehingga kelas memjadi lingkungan yang menarik dan efektif.
   1. Prinsip-prinsip penataan lingkungan fisik kelas.
           Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruangan kelas yang menarik, efektif serta mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Louisell (1992) dalam buku sri anita (2008:10.18) ketika menata lingkungan fisik kelas guru harus mempertimbangkan 5 hal berikut:
a. Keleluasaan pandangan.
          Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata ruangan kelas ialah keleluasaan pandangan . Artinya, penempatan atau penataan barang-barang didalam kelas tidak menganggu pandangan siswa dan guru sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru atau benda/kegiatan yang sedang berlangsung.
 b. Mudah dicapai.
             Ruangan hendaknya diatur dengan baik sehingga lalu lintas kegiatan belajar di kelas tidak terganggu.
c. Keluwesan.
             Barang-barang yang ada didalam kelas hendanya mudah untuk ditata dan di pindah-pindahkan sesuai dengan tuntunan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa dan guru.
d. Kenyamanan.
       Prinsip kenyamanan ini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
e. Keindahan.
        Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran .
2. Penataan Tempat Duduk.
        Dalam menata tempat duduk, guru harus memperhatikan tujuan dan strategi pembelajaran. Seperti apabila tempat duduk yang ditata berjejer menghadap guru bertujuan untuk meningkatkan jumlah kerja yang dilakukan siswa. Tempat duduk yang membentuk huruf V strategi yang cocok dilaksanakan adalah metode ceramah juga tepat untuk diskusi kelas. Tempat duduk yang berhadap-hadapan dua orang dengan penataan tempat duduk seperti ini siswa dapat berlangsung bekerja kelompok setelah guru memberikan informasi umum tentang tugas-tugas yang harus dilaksanakan siswa dalam diskusi/ kerja kelompok.
B. Penataan Lingkungan psiko-sosial Kelas.
         Meskipun penataan lingkungan fisik kelas merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kelas, keadaan lingkungan psiko-sosial kelas juga tidak kalah pentingnya dalam menciptakan kelas yng kondusif bagi proses pembelajaran. Bahkan Winzer (1995) memyatakan bahwa iklim psiko-sosial kelas berpengaruh terhadap hasil belajar, konsep diri, rasa harga diri, dan sikap siswa terhadap sekolah.
        Iklim psiko-sosial kelas kelas berkenaan dengan hubungan sosial-pribadi antara guru dan siswa serta antarsiswa. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta antarsiswa. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta antarsiswa akan dapat menciptakan iklim psiko-sosial kelas yang sehat dan efektif bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
1. Karakteristik Guru.
         Berkenaan dengan pengelolaan iklim psiko-sosial kelas, Bandura (Good dan Brophy, 1990) dalam buku sri anita (2008:10.23) menyatakan bahwa keberhasilan guru dalam mengelola iklim psiko-sosial kelas dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri.
     a. Disukai oleh siswanya
     b.  Akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru-siswa.
   c. Bersikap positif terhadap pertanyaan/respons siswa.
   d. Sabar, tenguh dan tegas.
  2. Hubungan sosial antara siswa.
           Hubungan soial kurang baik antarsiswa dapat mengganggu lancarnya kegiatan pembelajaran.
        Agar kegiatan kelompok dapat berhasil dengan baik guru harus memperhatikan hal-hal berikut (Weber, 1977) dalam buku sri anitah menyatakan yaitu:
     a. Perilaku yang diharapkan.
     b. Fungsi kepemimpinan.
     c. Pola persahabatan siswa.
     d. Norma/aturan.
     e. Kemampuan berkomunikasi.
     F. Kebersamaan.


- Anitah Sri, dkk.  2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Sumantri Mohammad Syarif. 2016. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktik Di Tingkat Penndidikan Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.

Selasa, 14 Mei 2019

Kegiatan Remedial dan Kegiatan Pengayaan.

Kegiatan remedial.
A. Hakikat, Tujuan, Dan Fungsi Kegiatan Remedial.
      1. Hakikat kegiatan Remedial.
             Dalam buku Sri Anitah (2008:9.4) Remedial adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki keterampilan yang kurang baik dalam suatu bidang tertentu. Kalau kita kaitkan dengan kegiatan pembelajaran, kegiatan remedial dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang kurang berhasil.
           Kegiatan remedial adalah kegiatan membantu siswa dalam.menguasai materi pelajaran. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan remedial adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.
           Program remedial dalam buku mohammad syarif sumantri (2016: 422) adalah program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kopetensi minimalnya dalam satu kopetensi dasar tertentu.
          Sedangkan program pengayaan dalam buku mohammad syarif sumantri (2016:438) adalah memberikan tambahan atau perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum.
    2. Tujuan dan fungsi kegiatan remedial.
             Dalam buku Sri Anitah (2008:9.4) tujuan diadakan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Secara umum, tujuan kegiatan remedial adalah sama dengan pembelajaran biasa yaitu membantu siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Secara khusus, kegiatan remedial bertujuan untuk membantu siswa yang belum menguasai materi pelajaran melalui kegiatan pembelajaran tambahan.
            Fungsi kegiatan remedial dalam buku Sri Anitah (2008:9.5) yaitu:
     - korektif : memperbaiki cara mengajar dan cara belajar.
     - pemahaman : memahami kelebihan/kelemahan guru an siswa.
     - penyesuaian : menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa.
     - pengayaan : menerapkan  strategi pembelajaran yang bervariasi.
    - akselerasi : mempercepat penguasaan materi.
    - terapeutik : membantu mengatasi masalah sosial-pribadi.
B. Pendekatan Dalam Kegiatan Remedial.
       Menurut Warkitri dkk. (1991) mengemukakan tiga pendekatan dalam kegiatan remedial. Dalam buku Sri Anitah (2008:9.12-9.14) yaitu:
     1. Pendekatan yang bersifat preventif.
           Kegiatan remedial dipandang bersifat preventif apabila kegiatan remedial dialaksanakan untuk membantu siswa yang diduga akan mengalami kesulitan dalam menguasai kopentensi yang telah ditetapkan. Kegiatan remedial yang bersifat preventif diaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa dilaksanakan.
    2. Pendekatan yang bersifat kuratif.
           Kegiatan remedial dipandang bersifat kuratof apabila dilaksanakan kegiatan remedial ditujukan untuk membantu mengatasi kesulitan siswa setelah siswa mengikuti pembelajaran biasa. Kegiatan remedial yang bersifat kuratif dilaksanakan karena berdasarkan hasil evauasi pada kegiatan pembelajaran biasa diketahui bahwa siswa belum mencapai kriteria keberhasilan atau kopetensi minimal yang telah ditetapkan.
   3. Pendekatan yang bersifat pengembangan.
           Kegiatan remedial dipandang bersifat pengembangan apabila kegiatan renedial dilaksanakan selama berlangsungny kegiatan pembelajaran biasa.
C. Jenis-Jenis kegiatan remedial.
     Menurut ( suke, 1991) dalam buku Sri Anitah (2008:9.15-9.16) yaitu:
         1. Mengajarkan Kembali.
                 Melalui bentuk kegiatan ini, guru menjelaskan kembali materi yang belum dipahami atau dikuasai siswa.
         2. Menggunakan alat praga.
                   Untuk lebih memudahkan siswa memahami konsep yang belum dikuasainya, guru sebaiknya menggunakan alat peraga dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan alat praga tersebut.
        3. Kegiatan kelompok.
                    Diskusi ataupun kerja kelompok dapat digunakan guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai kompetensi yang dituntut.
D. Prinsip Pelaksanaan Kegiatan Remedial.
        Dalam buku Sri Anitah (2008:9.17-9.18) yaitu:
             1. Apabila terdapat beberapa orang siswa yang mengalami kesulitan yang sama, kegiatan remedial tersebut hendaknya diberikan terhadap kelompok siswa secara bersama-sama, apabila kesulitan yang dihadapi seorang siswa berbeda dengan siswa lain maka tugas diberi secara individual.
            2. Proporsi bantuan yang diberikan hendaknya sesuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa.
            3. Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sendiri oleh guru, guru bersama-sama siswa.
            4. Metode yang diterapkan dalam kegiatan remedial hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan serta dapat membangkitkan motivasi pada diri siswa untuk belajar lebih giat dan lebih tekun.
E. Prinsip Pemilihan Kegiatan.
         Menurut wardani (1991) dalam buku Sri anitah (2008:9.19) adalah sebagai berikut:
              1. Memanfaatkan latihan khusus, terutama bagi siswa yang mempunyai daya tangkap lemah.
              2. Menekankan pada segi kekuatan yang dimiliki siswa.
              3. Memanfaatkan penggunaan media.
              4  memanfaatkan permainan sebagai sarana belajar, terutama bagi siswa yang kurang memiliki motivasi untuk belajar.
   
     Kegiatan pengayaan.
A. Hakikat kegiatan pengayaan.
        Dalam buku sri anitah (2008:9.32) kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok dalam memanfaatkan kelebihan waktu yang dimilikinya sehingga mereka memiliki pengetahuan yang lebih kaya dan keterampilan yang lebih baik. Kegiatan pengayaan dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran biasa atau diluar jam pelajaran.
         Tujuan kegiatan pengayaan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.

B. Jenis kegiatan pengayaan.
       1. Tutor sebaya.
               Kegiatan tutor sebaya selain dapat digunakan dalam kegiatan remedial, juga sangat efektif untuk kegiatan pengayaan. Membantu siswa lain memahami materi pelajaran dapat merupakan kegiatan penambahan wawasan pengetahuan siswa.
      2. Mengembangkan latihan.
               Disamping memberikan tutorial kepada temannya, siswa kelompok cepat dapat juga diminta untuk memgembangkan latihan praktis yang dapat dilaksanakan oleh teman-temannya yang lambat sehingga mereka akan lebih mudah memahami materi pelajaran.
     3. Mengembangkan media dan sumber pembelajaran.
               Memberikan kesempatan untuk siswa menghasilkan suatu karya yang berkaitan dengan materi yang di pelajari merupakan sesuatu yang menarik bagi siswa kelomok cepat.
C. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan pengayaan.
      1. Faktor siswa.
            Dalam menentukan jenis kegiatan pengayaan yang akan dilaksanakan, guru harus memperhatikan karakteristik siswa, baik yang berkenaan dengan faktor minat maupun dengan faktor minat maupun dengan faktor psikologi lainnya.
    2. Faktor manfaat Edukatif.
          Sesuai dengan tujuan utama pemberian kegiatan pengayaan, yaitu untuk memberikan kesempatan ada siswa berkembang secara optimal maka kegiatan pengayaan harus memberikan manfaat bagi siswa.
    3. Faktor waktu.
           Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa kegiatan pengayaan diberikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dengan memanfaatkan kelebihan waktu, sementara siswa lain masih melakukan kegiatan remedial.


Daftar Rujukan
- Anitah Sri, dkk.  2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Andriani Ayu. 2018. Praktis Membuat Buku Kerja Guru. Jawa Barat: Cv Jejak.
- Sumantri Mohammad Syarif. 2016. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktik Di Tingkat Penndidikan Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.




 
         
   

Rabu, 08 Mei 2019

                Keterampilan dasar mengajar 2
Dalam buku sri anitah (2008:8.3-8.63) menjelaskan bahwa:
A. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran.
       Pengertian dan Tujuan.
     Secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan membuka pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam memulai kegiatan pelajaran, sedangkan keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam mengakhiri pelajaran.
    Kegiatan membuka pelajaran merupakan kegiatan menyiapkan siswa untuk memasuki inti kegiatan, sedangkan kegiatan menutup adalah kegiatan untuk memantapkan atau menindak lanjuti topik yang telah dibahas.
       Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan membuka pelajaran adalah:
      1. Menyiapkan mental siswa untuk memasuki kagiatan inti pelajaran.
      2. Membangkitkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran.
      3. Memberikan gambaran yang jelas tentang batas-batas tugas yang harus dikerjakan siswa.
      Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan menutup pelajaran adalah:
    1. Memantapkan pemahaman siswa terhadap kegiatan belajar yang telah berlangsung.
    2. Mengetahui keberhasilan siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran yang telah dijalani.
   3. Memberikan tindak lanjut untuk mengembangkan kemampuan yang baru saja dikuasai.

B. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
        Syarat-syarat diskusi kelompok kecil adalah sebagai berikut:
   1. Meibatkan kelompok ang anggotanya berkisar antara 3-9 orang.
   2. Berlangsung dalam situasi tatap muka yang informal artinya semua anggota kelompok berkesrmpatan saling melihat, mendengar, serta berkomunikasi secara bebas dan langsung.
   3. Mempunyai tujuan yang mengikat anggota kelompok sehingga terjadi kerja sama untuk mencapainya.
   4. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada tercapainya tujuan kelompok.

 C.  Ketrampilan mengelola kelas.
          Ketrampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan, agar mampu mengelola kelas secara efektif, guru harus memperhatikan berbagai hal:
 a. Kehangatan guru sangat berperan dalam menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
 b. Kata-kata dan tindakkan guru yang dapat menggugah siswa untuk belajar dan berprilaku baik akan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang menyimpang.
c. Penggunaan variasi dalam mengajar dapat mengurangi terjadinya gangguan.
d. Keluwesan guru dalam kegiatan pembelajaran dapat mencegah munculnya gangguan.
e. Guru harus selalu menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif.
f. Guru hendaknya mampu menjadi contoh dalam menanamkan disiplin diri sendiri.

D. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
         Pengajaran kelompok kecil dan perorangan ditandai oleh ciri-ciri berikut:
      1. Terjadi hubungan (interaksi) yang akrab dan sehat antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa.
      2. Siswa belajar sesuai dengan kecepatan,cara,kemampuan,dan minatnya sendiri.
      3. Siswa mendapatkan bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya.
     4. Siswa dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar yang akan ditempuh, materi dan alat yang akan digunakan, dan bahkan tujuan yang ingin dicapai.




                                Daftar Rujukan
- Anitah Sri.2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Rabu, 01 Mei 2019

                     Keterampilan Dasar Mengajar 1

      Dalam Sri Anita(2008:7.1) Mengajar merupakan satu perkerjaan profesional, yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Keterampilan dasar mengajar merupakan satu keterampilan yang menuntut latihan yang terprogram untuk dapat menguasainya. Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara lebih efektif. Jenis-jenis keterampilan Dasar Mengajar :

1. Keterampilan bertanya.
Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang paling sederhana dibandingkan dengan keterampilan lainnya.
A. Rasional
      Kegiatan bertanya dilakukan oleh semua orang tanpa memandang batas umur. Anak kecil sering mempertanyakan hal-hal yang ingin diketahuinya, bahkan pada masa perkembangan anak ada masa yang disebut "masa apa itu" yaitu masa anak kecil mempertanyakan segala sesuatu yang dilihatnya. Pada umumnya, tujuan bertanya adalah untuk memperoleh informasi, Namun, kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru, tidak hanya bertujuan untuk memperoleh informasi. Tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Yang lebih penting adalah untuk mendorong para suswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
B. Definisi dan fungsi pertanyaan.
      Menurut G.A. Brown dan R. Edmondson (1984) dalam buku Sri anita(2008:7.6) mendefinisikan pertanyaan sebagai "segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan). Fungsi pertanyaan menurut Turney (1979) dalam buku Sri Anita (2018:7.7)  adalah sebagai berikut :
     1. Membangkitkan minat dan keingintahuan siswa tentang suatu topik.
      2. Memusatkan perhatian pada masalah tertentu.
      3. Mengalakkan penerapan belajar aktif.
      4. Merangsang siswa mengajukan pertanyaan sendiri.
      5. Memberi kesempatan untuk siswa berdiskusi.
C. Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya.
       1. Keterampilan Bertanya Dasar.
           a. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat.
           b. Pemberian acuan .
           c. Pemusatan.
            d. Pemindahan giliran.
            e. Penyebaran.
       2. Keterampilan Bertanya Lanjut.
            a. Pengubahan tuntunan kognitif dalam menjawab pertanyaan.
            b. Pengaturan urutan pertanyaan.
            c. Penggunaan pertanyaan pelacak
            d. Peningkatan terjadinya interaksi.
 D. Prinsip Penggunaan.
             1. Keangatan dan keantusiasan.
             2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan Berikut:
                  - Mengulangi pertanyaan sendiri
                 - Menjawab pertanyaan sendiri
                 - mengulangi jawaban siswa
            3. Memberikan Waktu berpikir.
            4. Mempersiapkan pertanyaan pokok yang akan diajukan.
            5. Menilai pertanyaan yang telah diajukan.

2. Keterampilan Memberi Penguatan.
         A. Pengertian dan Tujuan.
              Dalam buku Sri Anitah (2008:7.25) Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningatnya perilaku/perbuatan yang dianggap baik. Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:
            1. Meningkatkan perhatian siswa.
         2. Membangkitkan dan memelihara motivasi.
         3. Memudahkan siswa belajar.
         4. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang positif.
         5. Menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa.
         6. Memelihara iklim kelas yang kondusif.
   B. Komponen Keterampilan Memberi Penguatan.
1. Penguatan verbal.
         Penguatan verbal merupakan penguatan yang paling mudah digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat diberikan dalam bentuk komentar, pujian, dukungan, pengakuan atau dorongan yang diharapkan dapat meningkat tingkah laku dan penampilan siswa.
2. Penguatan Nonverbal.
       Penguatan nonverbal dapat ditunjukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
         a. Mimik dan gerakan badan.
         b. Gerakkan mendekati
         c. Sentuhan
         d. Kegiatan yang menyenaangkan.
 3. Penguatan Tak Penuh.
         Penguatan tak penuh diberikan untuk jawaban/respon siswa yang hanya sebagian benar dan sebagiannya harus di perbaiki.
  C. Prinsip Penguatan.
          1. Kehangatan dan keantusiasan.
          2. Kebermaknaan
          3. Menghindari penggunaan respons yang negatif.

3. Keterampilan mengadakan variasi.
         A. Pengertian dan Tujuan.
                 Dalam buku Sri Anitah (2008:7.38) Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan/dibuat untuk memberikan kesan yang unik.
                 Variasi didalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal berikut:
      1. Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar.
      2. Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu.
      3. Mengembangkan keinginan siswa untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru.
      4. Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam.
      5. Meningkatkan kadar keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
      B. Komponen-Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi.
            1. Variasi dalam gaya mengajar.
                       Gaya mengajar seorang guru sering dikaitkan dengan kepribadian guru tersebut sehingga sering terdengar diantara para siswa bahwa guru A selalu duduk ketika berbicara, guru B sering marah-marah, guru C suka bergurau dan sebagainya.
                    a. Variasi suara.
                    b. Pemusatan perhatian
                    c. Kesenyapan
                    d. Mengadakan kontak mata
                    e. Gerakan badan dan mimik
            f. Perubahan dalam posisi guru.
  2. Variasi pola interaksi dan kegiatan.
            Pola interaksi dalam kegiatan pembelajaran dapat bervaroaso dari yang paling didominasi guru sampai yang berpusat pada siswa sendiri. Dilihat dari pengorganosasian siswa, pola interaksi dapat dibedakan atas pola interaksi klasikal, kelompok, dan perorangan. Berikut ini diberikan berbagai contoh variasi pola interaksi dan kegiatan:
         a. Kegiatan klasikal
        b. Kegiatan kelompok kecil
        c. Kegiatan berpasangan.
        d. Kegiatan perorangan.
 
  3. Variasi penggunaan alat bantu pembelajaran.
         Merupakan suatu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran. Konsep yang sukar dan membosankan untuk disimak menjadi menarik jika disajikan dengan menggunakan media dan alat yang tepat.
          Sesuai dengan variasi tersebut maka variasi penggunaan alat bantu pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:
          a. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat.
          b. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat didengar.
          c. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat diraba dan dimanipulasi.
C. Prinsip Penggunaan.
              Agar variasi dapat berfungsi secara efektif, guru perlu memperhatikan prinsip penggunaan sebagai berikut:
                   1. Variasi yang dibuat harus mengandung maksud tertentu serta sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, karakteristik kemampuan siswa, latar belakang sosial budaya, materi yang sedang disajikan, dan kemampuan guru menciptakan variasi tersebut.
                   2. Variasi harus berlangsung secara lancar dan berkesinambungan, hingga tidak merusak suasana kelas, dan tidak menganggu jalannya kegiatan belajar.
                   3. Variasi harus terjadi secara wajar, tidak berlebihan sehingga tidak menganggu terjadinya proses belajar.

4. Keterampilan menjelaskan.
     
            Dalam buku Sri Anitah (2008:7.54) Istilah menjelaskan sering dikacaukan dengan menceritakan.
              Kegiatan menjelaskan bertujuan untuk:
                 1. Membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, dalil, dan sebagai secara objektif dan berbalar.
                 2. Membimbing siswa menjawab pertanyaan "mengapa" yang muncul dalam proses pembelajaran.
                 3. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berpikir yang lebih sistematis.
                 4. Mendapatkan balikan dari siswa tentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang dijelaskan an untuk mengatasi salah pengertian.
                 5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penalaran dalam penyelesaian ketidakpastian.



Daftar Rujukan

- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Suwarna. 2013. Modul  Pelatihan Pengembangan Keterampilan Dasar Pengembangan Keterampilan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

   



Rabu, 24 April 2019

A. Hakikat, Fungsi, dan Peranan Media Pembelajaran.
 1. Hakikat media pembelajaran.
        Dalam buku yosfan Azwandi(2007:89) bahwa kata media berasal dari bahasa latin an merupakan bentuk jamak dari kata "medium" yang berarti perantara atau pengantar. Dalam proses komunikasi, media merupakan apa saja yang mengantarkan atau membawa informasi ke penerima informasi. Didalam proses belajar mengajar yang pada hakiatnya juga merupakan proses komunikasi, informasi atau pesan yang dikomunikasikan adalah isi atau bahan ajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum, sumber informasi adalah guru, penulis buku atau modul, perancang dan pembuat media pbelajaran lainnya sedangkan penerima informasi adalah siswa.
        Menurut Heinich, dkk.(1993) dalam buku Sri Anitah (2008:6.3) media merupakan alat saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata "medium" yang secara harfiah berarti perantara, yaitu perantara yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan peneria pesan (a receiver). Heinich mencontohkan media ini, mencontohkan media ini seperti film, televisi, bahan tercetak, komputer dan instruktur.                                                
       Menurut schramm,1977 dalam buku sri anitah (2008:6.4) Media merupakan teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sedangkan menurut NEA, 1969 dalam buku sri Anitah (2008:6.4) Media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar termasuk teknologi perangkat kerasnya.
      Sedangkan menurut pendapat saya media merupakan sarana atau alat komunikasi yang bertujuan untuk membantu guru dalam menerangkan atau menjelaskan  pelajaran.
2. Peranan media pembelajaran.
        Dalam buku Sri Anitah pentingnya peranan media dalam suatu proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran itu sendiri pada hakikatnya merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi, biasanya guru berperan sebagai komunikator (communicator) yang bertugas menyampaikan pesan atau bahan ajar (massage) kepada siswa. Siswa dalam hal ini bertindak sebagai penerima pesan. Agar pesan atau bahan ajar yang disampaikan guru dapat diterima oleh siswa maka diperlukan wahana penyalur pesan yaitu media pembelajaran.
Dalam sistem pembelajaran modern saat ini, siswa tidak hanya berperan sebagai komunikan atau penerima pesan, bisa saja siswa bertindak sebagai komunikator atau penyampai pesan. Dalam bentuk komunikasi pelajaran manapun sangat dibutuhkan peran media untuk lebih meningkatkan tingkat keefektifan pencapaian tujuan atau kompetensi. Artinya proses pembelajaran tereebut akan terjadi apabila ada komunikasi antara penerima pesan dengan sumber atau penyalur pesan lewat media.
3. Fungsi media pembelajaran.
   a. Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan sesuai pembelajaran yang lebih efektif.
   b. Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.
     c. Media pembelajaran dalam penggunaanya harus relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai dan isi pembelajaran itu sendiri. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepada kompetensi dan bahan ajar.
     d. Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan. Dengan demikian, tidak giperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata.
    e. Media pembelajaran bisa berfungsi untuk mempercepat proses belajar, fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.
    f. Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.
    g. Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir.

B. Jenis dan karekteristik media pembelajaran.
     Dalam buku Sri Anita (2008:6.17) menjelaskan jenis dan karekteristik media pembelajaran yaitu:
      a. Media visual.
              Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru-guru sekolah dasar untuk membantu menyampaikan isi atau materi pembelajaran.
      1. Media visual yang dapat diproyeksikan pada dasarnya adalah media yang menggunakan alat proyeksi (projector) sehingga gambar atau tulisan tampak layar. Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam minsalnya gambar diam dan media proyeksi bergerak.
     2. Media Visual Tidak Diproyeksikan.
          * Gambar fotografik.
                Gambar fotografi atau seperti fotografi ini termasuk kedalam gambar diam/mati , minsalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
          * Grafis
                Media grafis ini merupakan media pandang dua dimensi (bukan fotografik) yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesan pembelajaran. Jenis-jenis grafis yaitu:
       -grafik merupakan gambar yang sederhana untuk menggambarkan data kuantitatif yang akurat dan mudah untuk dimengerti.
      -bagan biasanya dirancang dirancang untuk menggambarkan atau menunjukan suatu ide atau gagasan melalui garis, simbol,gambar, dan kata-kata singkat.
     -diagram merupakan suatu gambaran sederhana yang dirancang untuk memperlihatkan tentang tata kerja dari suatu benda, teruama dengan garis-garis.
        -poster merupakan suatu kombinasi visual yang terdiri atas gambar dan pesan/tulisan, biasanya dengan menggunakam warna yang mencolok.
        -kartun merupakan penggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang,gagasan atau situasi yang di rancang untuk membentuk opini siswa.
   
* media tiga dimensi.
       Model ini merupakan tiruan dari beberapa objek nyata, seperti objek yang terlalu besar, objek yang terlalu jauh, objek yang terlalu kecil, objek yang terlalu mahal, objek yang jarang ditemukan atau objek yang terlqlu rumit dibawa kedalam kelas dan sulit dipelajaro siswa wujud aslinya.

b. Media Audio
        Merupakan media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar.

c. Media Audiovisual.
          Merupakan kombinasi audio dan visual atau biasanya disebut media pandang dengar seperti televisi dan cd.

C. Pemilihan, penggunaan, perawatan media pembelajaran sederhana.
    -  Dalam buku Sri Anita (2008:6.36) menjelaskan jenis dan karekteristik media pembelajaran yaitu:
      Kegiatan pemilihan media pembelajaran ini merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan proses penggunaan media pembelajaran.
         1. Tujuan Pemilihan Media Pembelajaran.
               Memilih media pembelajaran yang akan digunakan harus berdaarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Untuk kegiatan pembelajaran atau untuk pemberian informasi yang sifatnya umum atau untuk sekedar hiburan saja? Jika digunakan untuk kegiatan pembelajaran, apakah untuk pembelajaran yang sifatnya individual atau kelompok? Tujuan pemilihan ini sangat berkaitan dengan kemampuam anda dalam menguasai berbagai jenis media pembelajaran beserta karkteristik.
       2. Karakteristik media pembelajaran
                Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keandalannya, cara pembuatannya maupun cara penggunaannya. Pemahaman terhaap karakteristik berbagai media pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang perlu dimiliki dalam kaitannya dengan pemilihan media pembelajaran ini.
3. Alternatif media pembelajaran yang dapat dipilih.
           Memilih media pembelajaran pada dasarnya merupakan proses mengambil atau menentukan keputusan dari berbagai pilihan yang ada.

Menurut heinich(1982) yang dikutip sugyar dkk(2009) dalam buku mohamad syarif sumantri (2015:305) yaitu:
1. Menganalisis karaktetistik kelompok sasaran.
2. Menyatakan atau merumuskan tujuan pembelajaran.
3. Memilih, memodifikasi atau merancang dan mengembangkan materi dan media yang tepat.
4. Meminta tanggapan kepada siswa.
5. Mengevaluasi proses belajar.

- Penggunaan media pembelajaran dalam buku sri anita (2008:6.39-6.44)
      1.cara menggunakan grafik
 Dalam proses pembelajaran sering disajikan data yang sifat kuantitatif, hal ini dapat digambarkan dengan tepat melaui grafik. Minsalnya, para siswa akan mempelajari hasil produksi padi dari suatu negara atau keadaan penduduknya dan luas wilayahnya maka akan lebih muda apabila dibantu dengan menggunakan grafik.
     2. Cara menggunakan bagan diagram
Terlebih dahulu buat suatu perencanaan brupa garis atau sketsa. Usahakan  buat bagan yang sederhana tetapi sesuai dengan sasaran. Apabila kelas besar buat bangan yang besar pula. Gunakan warna yang digunakan anak-anak.

- pemeliharaan media pembelajaran Dalam buku sri anita (2008:6.44-6.46)
      1. Media grafis, seperti bagan, diagram, grafik, poster dan kartun yang sibuat dengan ukuran cukup besar (ukuran karton manila) bisa diberi bingkai pada bagian atas dan bawahnya. Cara menyimpannya tidak digulung atau dilipat supaya media tersebut tidak cepat rusak atau robek. Janganlah media tersebut digantung diruang kelas sepanjang tahun dan hanya berfungsi sebagai hiasan kelas belaka. Hal tersebut hanya mengganggu konsentrasi siswa yang sedang belajar.
    2. Display cara memeliharanya lembar-lembar gambar digantung atau disandarkan. Ukuran gambar besar sehingga dapat dibaca atau dilipat oleh siswa alam kelas.
   3. Apabila pihak sekolah memiliki dana yang cukup memadai, sebaiknya disediakan ruang tertentu untuk menyimpan berbagai media pembelajaran, baik yang telah dibuat sendiri oleh guru maupun hasil membeli dari toko sehingga media tersebut awet atau tahan lama dan terpelihara dengan baik.

D. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
  Dalam buku sri anita (2008:6.61-6.62) yaitu :
       Lingkungan sebagai sumber belajar memiliki nilai-nilai yang sangat berharga yang dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran. Lingkungan dapat memperkaya baahn dan kegiatan belajar siswa. Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri atas lingkungan sosial dan lingkungan fisik atau lingkungan alam. Lingkungan sosial dapat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Limgkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari gejala-gejala alam serta dapat menumbuhkan kesadaran siswa akan cinta alam dn berpartisipasi dalam memmelihara alam.
      Prosedur belajar untuk memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat ditempuh melalui kegiatan dengan membawa soswa ke lingkungan seperti survei, karyawisata, berkemah dialam terbuka, praktek lapangan, dan pelayanan kepada masyarakat atau dengan membawa lingkungan kedalam kelas atau sekolah seperti pemanfaatan narasumber yang ada pada masyarakat untuk berbicara disekolah. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berhasil dengan baik, perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Dalam langkah-langkah tersebut, guru dan siswa terlibat aktif sehingga kegiatan pemanfaatan lingkungan tersebut menjadi tanggung jawab bersama.



Daftar Rujukan

- Anitah Sri. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas terbuka.
- Azwandi Yosfan. 2007. Media Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta.
- Syarif Sumantri Mohamad. 2015. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
   

     




Rabu, 10 April 2019

Metode Mengajar

A. Hakikat dan faktor-faktor dalam pemilihan metode mengajar.
    a. Hakikat metode mengajar
      Dalam buku Sry Anita metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena untuk menapai tujuan pembelajaran maupun dalam upaya membentuk kemampuan siswa diperlukan adanya suatu metode atau cara mengajar yang efektif.
Sedangkan dalam buku Ahmad Susanto menurut dajamarah (2002:53) adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut saya metode mengajar adalah suatu cara yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan efektif.
  b. Faktor-Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode mengajar.
      Dalam buku Sry Anitah (2008) yaitu:
1. Tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa.
        Tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai siswa merupakan                                                  faktor utama yang harus di pertimbangkan dalam pemilihan metode mengajar.
2. Karakteristik bahan pengajaran atau materi pelajaran.
         Memiliki beberapa aspek yaitu:
     - aspek konsep merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan pengertian,atribut,karakteristik label atau ide dan gagasan sesuatu. Artinya guru akan memilih metode mana yang dianggap sesuai jika akan mengajar tentang konsep begitu juga dengan aspek yang lainnya.
    - aspek fakta merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang lalu data-data yang memiliki esensi objek dan waktu.
    - aspek nilai merupakan substansi materi pelajaran yang berhubungan dengan aspek perilaku baik dan buruk, yang benar atau yang salah, yang bermanfaat atau tidak bermanfaat.
3. Waktu yang digunakan.
          Pemilihan metode mengajar juga harus memperhatikan alokasi waktu yang tersedia dalam jam pelajaran ada beberapa metode mengajar yang dianggap relatif banyak menggunakan waktu, seperti metode, pemecahan, masalah, dan inkuiri.
B. Jenis-jenis metode mengajar.
1. Metode Ceramah
      Merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan atau penyampaian bahan pelajaran secara lisan dari guru.
     Menurut suryafubroto (2009:155) peran murid dalam metode ceramah ini yang penting adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat yang pokok-pokok yang dikemukakan oleh guru.
 - kelebihan
        * Guru dapat menguasai seluruh arah kelas.
        * organisasi kelas sederhana.
 - Kekurangan
          * Guru sukar mengetahui sampai dimana murid-murid telah mengerti pembahasannya.
          * murid sering memberi pengertian lain dari hal yang dimaksid guru.
2. Metode diskusi
           Metode ini sering digunakan dalam pembelajaran kelompok atau kerja kelompok yang didalamnya melibatkan beberapa orang siswa untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas atau permasalahan.
 - kelebihan
         * Bertukar pikiran
         * Merangsang siswa untuk berpendapat
         * mengembanngkan rasa tanggung jawab
         * membina kemampuan berbicara.
- kekurangan
        * Menggunakan waktu yang cukup banyak
        * Apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi tidak akan efekti.
      3. Metode simulasi
            Merupakan salah satu metode mengajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok proses pembelajaran yang mengunakan simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melakukan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura.
  - kelebihan
           * siswa dapat melakukan interaksi sosial dan komunikasi dalam kelompok.
           * aktivitas siswa cukup tinggi dalam pembelajaran sehingga sehingga terlibat langsung dalam pembelajaran.
 - kekurangan
         * Menggunakan waktu yang banyak
         *  Sangat bergantung pada aktivitas siswa
         * Banyaknya siswa yang kurang mampu menyenangi simulasi sehingga simulasi menjadi tidak efektif.
4. Metode demontrasi
          Merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu sehingga dapat mempelajarinya secara proses.
            - kelebihan
                     * Siswa-siswa dapat  memahami bahan pelajaran sesuai dengan objek sebenarnya
                     * Dapat mengembangkan rasa ingin tahu siswa.
           - kekurangan
                       * hanya dapat menimbulkan cara berpikir yang kongkrit saja
                        * jika jumlah siswa banyak dan posisi siswa tidak diatur maka demonstrasi tidak efektif.
 5. Metode Eksperimen
              Merupakan metode mengajar yang dalam penyajian atau pembahasan materinya melalui percobaan atau mencobakan sesuatu serta mengamati secara proses.
6. Metode inkuiri
            Dalam buku Abdul Aziz Wahab(2012)  metode inkuiri meruapkan salah satu prosedur mengajar yang menekankan pada studi individual, manipulasi objek dan percobaan lain sebelum siswa membuat generalisasi.

C. Hubungan pengalaman belajar dengan metode mengajar.
      Pengalaman Belajar dalam buku Wina sanjaya (2015:160) pengalaman belajar adalah sejumlah aktivitas siswa yang dilakukan untuk memperoleh informasi kopetensi baru sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
   SedangkanDalam buku Sry Anita metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena untuk menapai tujuan pembelajaran maupun dalam upaya membentuk kemampuan siswa diperlukan adanya suatu metode atau cara mengajar yang efektif.
Hubungan pengalaman dengan metode belajar adalah siswa sama-sama melakukan suatu aktifitas yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan.




Daftar Rujukan

- Anita Sry.2008. Strategi pelajaran SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
- Susanto Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di SD. Jakarta: Prenadamedia Group.
- Sanjaya Wina. 2015. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Kencana.
- Wahab Abdul Aziz. 2012. Metode dan Model Mengajar. Bandung:Alfabeta.

Selasa, 02 April 2019

Prosedur Pembelajaran

        Menurut Muslich (2007:72)dalam buku Suprihatinigrum, Jamil.2016.hal 118 pelaksanaan pembelajaran diarahkan pada 3 aspek yaitu:
A.  Kegiatan pra dan awal pembelajaran
     1. Mempersiapkan siswa untuk belajar kesiapan siswa antara lain mencakup kehadiran                              kerapian, ketertiban, dan perlengkapan pelajaran.
    2. Melakukan kegiatan apersepsi mengaitkan materi pelajaran sekarang dengan pengalaman siswa atau pembelajaran sebelumnya (termasuk kemampuan prasyarat) mengajukan pertanyaan menantang, menyampaikan manfaat materi pembelajaran dan mendemontrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran.

B.Kegiatan inti dalam pembelajaran.
    1. Penguasaan materi pelajaran.
       a. Menunjukan penguasaan materi pembelajaran, memperlihatkan tingkat kebenaran keakuratan pembelajaran yang dibahas pada substansi materi usaha gaya dan energi.
       b. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan dan menghubungkan materi yang disampaikan dengan disampaikan dengan materi yang relevan.
      c. Menyampaikan materi dengan jelas sesuai dengan hierarki belajar dan karakteristik siswa materi disajikan dengan alur pikiran siswa dan tahapan yang dapat dimengerti siswa.
     d. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan realita kehidupan antara lain mencakup mata pencarian, pendidikan keadaan geografi, adat istiadat, dan sebagainya.
 2. Pendekatan dan strategi pembelajaran.
     a. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan di capai dan karakteristik siswa pembelajaran sesuai dengan jelas kopetensi (tujuan).
    b. Melaksanakan pembelajaran secara runtut: metode dan materi di paparkan secara sistematis sesuai dengan konteks memperhatikan persyarat dan kemampuan berfikir siswa.
    c. Menguasai kelas: guru dapat mengendalikan pembelajaran perhatian siswa terfokus
pada pelajaran dan disiplin kelas terpelihara.
   d. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual, kontektual merujuk pada tuntutan situasi dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
   e. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif, kebiasaan positif antara lain dapat berbentuk kerja sama, tanggup jawab, disiplin dan berpikir kritis.
    f. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan guru mulai dan mengakhiri tahap-tahap pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang telah di tetapkan.
 3. Pemanfaatan sumber atau media pembelajaran.
     a. Menggunakan media secara efektif dan efisien: terampil memanfaatkan lingkungan dan sumber belajar lainnya secara efektif dan efisien mencapai target dan sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan terampil mengoperasikan media pembelajaran, misalnya mengoperasikan dengan benar dan lancar.
    b. Menghasilkan pesan yang menarik media yang digunakan berhasil memusatkan perhatian siswa sehingga pesan dapat ditangkap dengan jelas.
    c. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media: siswa dilibatkan dalam kegiatan pembuatan dan pemanfaatan sumber belajar atau media pembelajaran yang auntentik, termasuk sumber belajar yang tersedia diperpustakaan, minsalkan siswa membuat, memodifikasi, mendemonstrasikan, dan menggunakan media.
 4. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa .
    a. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran melakukan kegiatan yang memancing keatifan siswa, baik secara mental, emosional, maupun fisik dengan guru, teman atau sumber belajar.
    b. Menunjukan sikap terbuka terhadap respon siswa menghargai pendapat siswa, mengakui kebenaran pendapat siswa dan mengakui keterbatasan diri.
    c. Menumbuhkan antusiasme siswa dalam belajar siswa tampak senang dan bersrmangat mengikuti pembelajaran.
  5. Penggunaan bahasa.
     a. Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar, bahasa lisan yang mudah dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran ganda atau salah tafsir.
  b. Menyampaikan pesan gaya yang sesuai ekspresi wajah intonasi suara, serta gerakan tubuh sesuai dengan pesan yang disampaikan dan menarik.

C. Kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran.
    a. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa, mengajak siswa untuk mengingatkan kembali hal-hal penting yang terjadi dalam kegiatan yang sudah berlangsung minsalnya dalam mengajukan pertanyaan tentang proses, materi dan kejadian lainnya. Memfalidasi siswa dalam membuat rangkuman, minsalnya dengan mmengajukan pertanyaan penutupan agar siswa dapat merumuskan bagaimana yang benar.
    b. Guru bersama-sama dengan siswa dan sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran.
    c. Melakukan penilaian dan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
    d. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran
    e. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan memberikan tugas, baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa.
    f. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.















Daftar Rujukan

 Suprihatiningrum,Jamil. 2016. Strategi Pembelajaran Teori dan aplikasi . Yogyakarta: Ar- Ruzz     Media.




Kamis, 28 Maret 2019

Model-model belajar dan rumpun model mengajar

1. Model-model belajar
         Joyce & Weil (1980) dalam buku Mohamad Syarif Sumantri pada tahun 2016 hal 37, bahwa model pembelajaran didefinisikan sebagai kerangka konsep yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran.
      Model-Model pembelajaran dalam buku Mohammad Syarif Sumantri pada tahun 2016 dibuku Strategi Pembelajaran pada hal.42 memjelaskan macam-macam model pembelajaran di sekolah dasar yaitu:
 a. Model Pembelajaran Berbasis Masalah.
 Menurut Wina Sanjaya dalam buku Mohamad syarif sumantri pada tahun 2016 pada hal.42 bahwa PBL yaitu salah satu model pembelajaran yang bersosialisasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artiya dihadapakan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar keterampilan-keterampilan yang lebih mendasar. Munurut sumiarti (2009) dalam buku Mohammad Syarif Sumantri  pembelajaran berdasarkan masalah adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang autentik serta menjadi pelajar mandiri.
  - keunggulan Model PBL
     * Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan
     * Berfikir dan bertindak kreatif
     * Siswa dapat memecahkam masalah yang dihadapi secara realitis
     * Mengidentifikasi dan mengevaluasi hasil pengamatan
     * Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
       * Meranggsang bagi perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk menyelesaikan  suatu permasalahan yang dihadapi dengan tepat
       * Dapat membuat pendidikan lebih relevan dengan kehidupan.

-  kekurangan Model PBL
     * beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan model ini
     * membutuhkan alokasi waktu yang lebih panjang
     * Pembelajaran hanya berdasarkan masalah.
 b. Model Pembelajaran kooperatif.
Di dalam buku Mohamad Syarif Sumantri Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembemlajaran yang telah dirumuskan.
- kelemahan pembelajaran kooperatif.
  * Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu                                                   memerlukan lebih banyak tenaga, pikiran dan waktu.
 *  Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar, maka dibutuhkan dukungan fasilitasi, alat dan biaya yang cukup memadai.
 * selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
 *  Saat diskusi kelas, tetkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.

c. Model pembelajaran ekspositori.
          Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, ptinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan.
    - keunggulan model pembelajaran ekspositori.
     * Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, guru dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran.
     * Pembelajaran ekspositori dianggap sanagat efektif apabila  meteri pelajaran yang harus di kuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang memiliki untuk belajar terbatas.
    * Melalui pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengarkan melalui penuturan.
    *  Dapat digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
 - kelemahan model pembelajaran ekspositori
    * hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
   * sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis.

d. Model pembelajaran peningkatan kemampuan berfikir.
     Menurut sanjaya (2007) dalam buku Mohammah syarif sumantri pada hal.70 adalah model pembelajaran yang menekankan pada kemampuan berfikir siswa.
   - kelebihan
* siswa lebih siap menghadapi setiap persoalan yang disajikan oleh guru.
* priorotas pembelajaran menekankan pada keterampilan siswa.
* memberikan kebebasan untuk menggali kemampuan siswa dengan berbagai media yang ada.

   - kelemahan
        * hanya sekolah yang sesuai dengan karaktetistik model peningkatan kemampuam berfikir yang dapatvmelaksanakan model ini dengan baik.
        * kelemahan model ini bukan kelemahan dari model pembelajaran itu sendiri, tetapi karena faktor diluar model pembelajaran.
        * faktor waktu belajar yang tersedia tidak cukup dengan pembelajaran model peningkatan kemampuan berfikir yang membutuhkan waktu relatif banyak.
        * siswa yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata sulit mengikuti model pambelajaran peningkatan kemampuan berfikir ini.

e. Model pembelajaran sugestopedia
   -  kelebihan
* memberikan ketenangan dan kesantaian
* menyenangkan atau menggembirakan
* mempercepat proses pembelajaran
* memberikan penekanan pada perkembangan kecakapan berbahasa.

- kelemahan
  * hanya dapat digunakan pada kelompok kecil.
  * mengjengkelkan dan menggelisahkan bagi orang tidak suka lagu klasif.
  * biaya yang terlalu mahal
  * untuk kemampuan membaca dan menyimak tetlalu terbatas.

f. Pendekatan communicative language teaching (ctl)
       Menurut zainil (1993) dalam buku Moammad Syarif Sumantri dalam hal.90 CLT adalah pembelajaran bahasa komunikatif dalam.pembelajaran bahasa di mulai dari sebuah teori bahasa sebagai komunikasi.
 - kelebihan
* menurut Roestiyah (1994) dalam buku Mohamad Syarif  Sumantri yaitu : memberikan kesempatan pada siswa didalam memghadapi masalah sosial menempatkan diri pada tempat orang lain, meluaskan pandangan siswa, memberikan bagi pemahaman terhadap orang lain.
- kelemahan
        * guru tidak menguasai tujuan instruksional penggunaan teknik ini untuk sesuatu unit pelajaran,menggunakan waktu yang sedikit banyak, memerlukan keativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru dan siswa.

g. Model pembelajaran contextual teaching and learning CTL.
       Menurut susdiyanto, Saat, dan Ahmad (2009) CTL adalah proses pembelajaran yang holistik an bertujuan membantu siswa memahami makna materi ajar dengan mengaitkan terhadap konteks kehidupan mereka sehari hari.

h. Model pemelajaran Matematika Realistik.
RME  merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika.

2. Rumpun model mengajar.
a. Model yang berorientasi pada interaksi sosial.
     Dalam buku Abdul aziz Wahab(2012) hal.59 adalah sebagai upaya memperbaiki masyarakat dengan memperbaiki hubungan-hubungan interpersonal melalui prosedur demokratis yaitu demokratis pancasila yang menekankan musuawarah untuk mencapai mufakat.
   - Model investigasi kelompok.
       Model ini dikembangkan oleh john Dewey dan Herbert A. Thelen yang menggabungkan pandangan-pandangan proses sosial yang demokratik dengan penggunan strategi intelektual atau ilmiah untuk membantu manusia menciptakan pengetahuan dan masyarakat yang teratur dengan baik.
   - Model inkuiri sosial.
       Maksud secara umum adalh mengembangkan kemampuan siswa untuk memikirkan secara sungguh-sungguh dan terarah daneteflekkan hakikat sosial kehidupan khususnya pada kehidupan siswa sendiri dan arah kehidupan masyarakat dalam upaya memecahkan masalah-masalah sosial.

b. Model-model yang berorientasi pada pemprosesan informasi.
     Model rersebut menekankan pada cara siswa mem proses informasi. Tujuan utama dari model kategori ini adalah membantu siswa mengembangkan metode atau cara-cara memproses informasi yang diperoleh dari lingkungannya.
  - model mengajar induktif.
Menurut Hilda Taba dalam buku Abdul Aziz Wahab hal.65 mengemukakan 3 anggapan dasar tentang proses berpikir:
* berpikir dapat diajarkan
* transaksi aktivitas
* dalam proses berpikir mengembangkan dalam susunan urutan-urutan.
- Model pemerolehan konsep.
Dalam buku Abdul Aziz Wahab hal.66 bahwa model ini didasarkan pada penekanan bahwa lingkungan penuh dengan jumlah besar hal-hal yang berbeda dan musahil dapat menyesuaikan diri dengarnya jika manusia tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membedakan dan mengelomopokkan segala sesuatu itu ke dalam kelompok-kelompok.
- Model mengajar pengembangan
      Model mengajar yang dikembangkan piaget ini dilaksanakan dalam dua tahapan kelas. Pada fase pertama guru menampilkan keadaan di mana siswa dihadapkan dengan pikiran yang tidak logis atau dengan masalah yang membingungkannya. Fase kedua guru menyediakan petunjuk untuk memecahkan penyimpangan masalah yang dihadapi.
- Model menyusun yang lebih maju.
      Model mengajar tersebut telah dikembangkan oleh David Ausubel, yang oleh Paul D. Enggen dkk dalam buku Abdul Aziz Wahab hal.70 menyebutnya dengan model Ausubel yaitu suati model mengajar deduktif dal memperoses informasi yang didesain untuk mengajarkan kumpulan isi (body content) yang saling berhubungan.

c. Model yang Berorientasi pada Pribadi.
      Model ini didasarkan pada asumsi bahwa seseorang adalah sumber pendidikan.
- model mengajar bebas.
            Menurut Carl rogers dalam buku Abdul Aziz Wahab hal.73 bahwa asumsi pokok yang mendasari modelnya adalah bahwa setiap individu dapat mengatasi sendiri masalah kehidupannya dengan cara yang kontruktif.
- model pertemuan kelas.
  Dikembangkan ole Rober Glaser didalam buku Abdul Aziz Wahab hal.75 Dia meduga bahwa manusia gagal disebabkan oleh dirinya tetapi pada tingkat hubungan antara peibadi atau tingkat masyarakat.






Daftar Rujukan

- Aziz Abdul Wahab. 2012. Metode dan Model-model Mengajar. Bandung: CV ALFABETA.
-  Syarif Mohamad Sumantri. 2015. Strategi pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.




 

                                           
   

Rabu, 27 Maret 2019

Strategi pembelajaran 2

1. Pengertian belajar.
Menurut R. Gagne (1989) belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana sustu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Menurut Burton dalam usman dan setiawati(1993:4),belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu lain dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut E.R. Hilgard (1962) suatu perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungannya.
Sementara menurut Hamalik (2003) menjelaskan bahwa belajar adalah memodifikasi atau mempertenguh prilaku melalui pengalaman (learning is defined as the modificator or strengthening of behavior through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar  merupakan suatu proses,suatu kegiatan, dan bukan merupakan suatu hsil dan tujuan. W.S Winkel (2002) adalah suatu aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,keterampilan, dan nilai sikap yang bersifat relative konstan dan berbekas.
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memeperoleh suatu konsep, pemahaman, dan pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relative tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun, dalam bertindak.

2. Karekteristik proses belajar dan tahapan perkembangan siswa sekolah dasar .

a. Karakteristik proses belajar sd.
 Karakteristik proses pembelajaran disesuaikan denga karaktetistik kompetensi. Pembelajaran di sd disesuaikan dengan tingkat perkembangan perserta didik. Karakteristik proses belajar disesuaikan dengan karakteristik kompetensi.
 Proses belajar sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga ranah tersebut secara utuh atau holistik artinya pengembangan ranah yang satu tidak bisa di pisahkan dengan ranah lainnya
.
b. Tahap perkembangan siswa sd.
- Tahap perkembangan individu dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan lingkungan.
- Tahap perkembangan adalah proses kontinu.
- Tahap perkembangan individu mencakup diferensiasi dan integrasi konsep diri dan perspesi tentang dunianya.
- tahap perkembangan individual menyebabkan adanya keragaman individual.

3. Karekteristik pembelajaran di sekolah dasar.
Menurut Manger (1997:54) menyampaikan beberapa kriteria yang digunakan dalam memilih strategi pembelajaran:
a. Berorientasi pada tujuan pembelajaran. Tipe perilaku apa yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
b. Pilih teknik pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang dapat diharapkan dapat dimiliki saat bekerja nanti .
c. Gunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan ransangan pada indera peserta didi. Artinya dalam satuan-satuan waktu yang bersamaan peserta didik dapat melakukan aktivitas fisik dan psikis.





Daftar Rujukan
- Budiarti,Melik. 2017. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar. Jawa Timur: CV. AE Media dan Grafika.
- Hamzah & Mohamad Nurdin. 2012. Belajar dengan Pendekatan Pailkem. Jakarta: PT Bumi   Aksara.
- Susanto,Ahmad. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran Disekolah Dasar.
Jakarta: Prenadamedia Group.



Rabu, 20 Maret 2019

1.Konsep dan Prinsip Belajar dan Pembelajaran.

a. Pengertian belajar.
Menurut R. Gagne (1989) belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana sustu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Menurut Burton dalam usman dan setiawati(1993:4),belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu lain dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut E.R. Hilgard (1962) suatu perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungannya.
Sementara menurut Hamalik (2003) menjelaskan bahwa belajar adalah memodifikasi atau mempertenguh prilaku melalui pengalaman (learning is defined as the modificator or strengthening of behavior through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar  merupakan suatu proses,suatu kegiatan, dan bukan merupakan suatu hsil dan tujuan. W.S Winkel (2002) adalah suatu aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,keterampilan, dan nilai sikap yang bersifat relative konstan dan berbekas.
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memeperoleh suatu konsep, pemahaman, dan pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relative tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun, dalam bertindak.

b.Pengertian pembelajaran.

Kata pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar secara instruksional dilakukan oleh guru. Jadi, istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar dan mengajar. Pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata belajar dan mengajar, proses belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar.

Menurut undang-undang system pendidikan nasional no.20 tahun 2003 pembelajaran dapat diartikan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut pengertian ini, pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidikan agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan sikap dan keyakinan pada peserta didik.

Pengertian yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui. Kata pembelajaran yang semula diambil dari kata “ajar” ditambah awalan pe” dan akhiran “an” menjadi kata pembelajaran diartikan sebagai proses, perbuatan, cara mengajar, atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.

2.Perbedaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran.

-Pendekatan adalah (menurut T.Raka Joni,1991), menunjukana cara umum dalam memandang pemecahan atau objek kajian sehingga berdampak ibaratkan seorang yang memandang alam sekitar. Kacamata hijau akan menyebabkan lingkungan kelihatan kehijau-hijauan.
-Strategi menurut (T.Raka joni,1991), adalah ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
-Metode menurut (Fred Percival dan Henry Ellington 1984) adalah cara yang umum untuk menyampaikan pelajaran kepada peserta didik atau mempraktikkan teori yang telah dipelajari dalam rangka mencapai tujuan belajar.
-Teknik menurut (T.Raka Joni,1991), menunjukan keragaman khas dalam mengaplikasikan suatu metode sesuai dengan latar tertentu.

3. Faktor-faktor penentu dalam pemilihan strategi pembelajaran.
- Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menyangkut 3 komponen perilaku yaitu pengetahuan keterampilan dan sikap.
- Bahan
Bahan pembelajaran maksudnya adalah materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik atau yang harus dipelajari oleh siswa.
- siswa
Dalam memilih strategi pembelajaran faktor siswa perlu di perhatikan mengingat tujuan yang ingin dicapai dalam belajar adalah perubahan perilaku siswa. Setelah mempertimbangkan tujuan dalam strategi pembelajaran faktor siswa akan menjadi salah satu pertimbangannya.
- Guru hal yang harus kita pahami sebagai seorang guru adalah faktor keterbatasan seorang guru adalah faktor keterbatasan karena setiap guru memiliki kelebihan dan kekurangan.

4. Berbagai jenis strategi pembelajaran
a. Berdasarkan pertimbangan proses pengolahan pesan yaitu:
    - strategi pembelajaran deduktif merupakan strategi pembelajaran yang
          menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal seorang guru                                                           atau istruktur kepada sekelompok peserta didik latih dengan maksud agar peserta                                          didik latih dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.
  -  strategi pembelajaran induktif
      b. Berdasarkan pertimbangan pihak pengolah pesan yaitu:
          - strategi pembelajaran ekspositorik.
          - strategi pembelajaran heuristik.
     c. Berdasarkan pertimbangan taksomi hasil belajar yaitu:
         - strategi pembelajaran tatap muka.
         - strategi pembelajaran melalui media.
    d. Berdasarkan pertimbangan taksomi hasil belajar yaitu:
       - strategi belajar mengajar kognitif.
       - strategi belajar mengajar keterampilan.
       - strategi belajar mengajar afektif.


                          Daftar Rujukan
- Rusman. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Kharisma Putra Utama.
- Rianto,Milan. 2006. Pendekatan, Strategi, dan metode pembelajaran. Malang.
- Susanto,Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran disekolah dasar. Jakarta:Prenadamedia Group.