Pembelajaran yang Efektif
Perencanaan Pembelajaran yang Efektif.
A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan saling menunjang antara berbagai unsur atau komponen yang ada didalam pembelajaran atau dengan pengertian lain, yaitu suatu proses mengatur, mengkoordinasikan, dan menetapkan unsur-unsur atau komponen-komponen pembelajaran.
B. Komponen perencanaan pembelajaran.
1. Pada hakikatnya merupakan arah dari suatu program berupa tujuan pembelajaran yang istilah dalam kurikulum berbasis kompetensi disebut kompetensi.
2. Berkenaan dengan isi atau materi yang harus diberikan untuk mencapai tujuan/kompetensi tersebut.
3. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan, dan
4. Berkenaan dengan penilaian yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran.
C. Prinsip Perencanaan Pembelajaran.
Dalam buku sri anitah (2008:12.8) terdapat prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran yaitu:
1. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kondisi siswa.
2. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
3. Perencanaan pembelajaran arus memperhitungkan waktu yang tersedia.
4. Perencanaan pembelajaran harus merupakan urutan kegiatan belajar yang sistematis.
5. Perencanaan pembelajaran bila perlu lengkapi dengan lembaran kerja tugas dan atau lembar observasi.
6. Perencanaan pembelajaran harus bersifat pleksibel.
7. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan pada pendekatan sistem yang mengutamakan keterpaduan antara tujuan/kompetensi, materi, kegiatan belajar dan evaluasi.
D. Prosesur Perencanaan pembelajaran.
1. Penyusunan silabus
Silabus merupakan produk utama dari pengembangan kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang harus memiliki keterkaitan dengan produk pengembangan kurikulum lainnya yaitu proses pembelajaran. Pengembangan silabus tersebut diharapkan dapat memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Ilmiah dalam arti bahwa penetapan isi silabus harus memenuhi kebenaran ilmiah dan teruji kesahihannya jika memungkinkan perlu melibatkan ahli mata pelajaran.
b. Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa dalam penetapan cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian isi/materi dalam silabus.
c. Sistematis dalam arti bahwa komponen-komponen yang terdapat dalam silabus merupakan satu kesatuan yang paling berhubungan satu sama lain untuk mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan.
d. Konsisten minsalnya antara kompetensi yang di harapkan dicapai dengan penetapan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa.
e. Adekuat dalam arti bahwa cakupan/ruang lingkup materi yang di pelajari siswa cukup memadai untuk menunjang tercapainya penguasaan suatu kompetensi.
2. Penyusunan Rencana/satuan Pembelajaran.
Rencana pembelajaran adalah satuan unit program pembelajaran terkecil untuk jangka waktu mingguan atau harian yang berisi rencana penyampain suatu pokok atau satuan bahasa tertentu dalam satu mata pelajaran.
Unsur-unsur pokok terkandung dalam rencana/ satuan pembelajaran meliputi berikut:
a. Identitas mata pelajaran.
b. KD dan indikator yang hendak dicapai.
c. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
d. Strategi pembelajaran.
e. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian KD.
f. Penilaian dan tindak lanjut.
Pembelajaran yang Efektif.
A. Hakikat pembelajaan efektif.
Dalam buku Sri Anitah(2008:12.19)Perencanaan pembelajaran berkenaan dengan keputusan yang diambil guru dalam mengorganisasikan, mengimplentasikan, dan mengevaluasi hasil pembelajaran (Burden dan Byrd, 1999). Perencanaan merupakan tugas yang sangat penting dilakukan oleh guru.
Tujuan perencanaan adalah memberi jaminan pebelajar akan belajar dengan baik. Oleh karena itu, perencanaan membantu menciptakan mengelola, dan mengorganisasikan peristiwa-peristiwa pembelajaran yang memungkinkan kegiatan belajar terjadi. Jumlah waktu yang dibutuhkan dalam merencanakan pembelajaran sangat tergantung pada individu guru.
B. Faktor-Faktor yang Berkaitan Dengan kegiatan pembelajaran.
1. Isi pelajaran berkaitan dengan pengetahuan, ketrampilan, aturan dan konsep atau proses kreatif yang akan dipelajari.
2. Bahan pelajaran berwujud tulisan, bentuk fisik atau stimuli visual yang digunakan dalam pembelajaran.
3. Strategi pembelajaran pemilihan berbagai strategi pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan isi pembelajaran merupakan perencanaan sentral guru.
4. Perilaku guru Guru melakukan sejumlah kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung dan membantu pebelajar dalam kegiatan-kegiatan belajar.
5. Menstrukturkan Pelajaran menyusun pelajaran berkaitan dengan kegiatan yang terjadi pada suatu saat tertentu selama penyajian pelajaran dan guru perlu merencanakan struktur pelajaran.
6. Lingkungan belajar ketika kegiatan-kegiatan belajar direncanakan, pertimbangkan jenis lingkungan belajar yang diciptakan.
7. Durasi pembelajaran buat perencanaan waktu yang tersedia atau dialokasikan.
8. Lokasi pembelajaran rencanakan ditempat dimana pembelajaran itu akan terjadi.
C. Karakteristik Guru.
Keputusan perencanaan tentang kegiatan-kegiatan pembelajaran, dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri ( Neely & Hansford, 1985) Dalam buku Sri Anitah (2008:12.21) yaitu:
1. Banyaknya pengalaman menajar guru akan mempengaruhi keputusan perencanaan.
2. Filosofi belajar-mengajar akan mempengaruhi keputusan tentang perencanaan guru.
3. Pengetahuan guru tentang isi pelajaran, juga mempengaruhi keputusan tentang perencanaan.
4. Gaya guru dalam mengorganisasikan pembelajaran akan mempengaruhi keputusan perencanaan.
5. Harapan-harapan menata kelas, baik untuk pebelajar belajar maupun pelaksanaan pembelajaran oleh guru itu sendiri juga mempengaruhi keputusan tentang perencanaan.
6. Perasaan aman dan kontrol pembelajaran memainkan peranan dalam proses perencanaan.
D. Guru yang Efektif.
a. Melakukan reviu harian.
Untuk menentukan apakah belajar telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan prasyarat yang diperlukan.
b. Menyiapkan materi baru
Hasil riset menunujukan bahwa yang efektif memerlukan waktu yang lebih banyak dalam menyajikan meteri baru dan membimbing praktik dibandingkan guru yang kurang efektif.
C. Melakukan praktik terbimbing
Adalah membimbing praktik keterampilan awal belajar dan menyediakan penguatan yang perlu untuk kemajuan belajar baru dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.
d. Menyediakan balikan dan koreksi.
Selama praktik terbimbing bagi guru sangat penting untuk menyediakan proses balikan pada pebelajar.
E. Pendekatan pembelajaran yang efektif.
1. Belajar mandiri ( idependent learning).
Pembelajaran kovensional maupum pembelajaran inovatif meminta pebelajar meluangkan waktu dengan propersi yang signifikan untuk mengatur kegiatan belajar masing-masing.
2. Pembelajaran Terpadu (integrated learning)
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran untuk mencapai keterampilan-keterampilan belajar sepanjang hayat.
3. Pendekatan berbasis masalah
Belajar berbasis masalah (BBM) adalah belajar yang berpusat pada pebelajar dan juga mengambarkan metode belajar ini atau suplemen pembelajaran.
Daftar Rujukan
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
Rabu, 22 Mei 2019
Disiplin Kelas
A. Hakikat Disiplin Kelas.
Disiplin berarti ketaatan terhadap aturan, baik aturan untuk umum maupun kelompok tertentu, dan bahkan aturan yang kita buat untuk diri kita sendiri. Menurut Turney & Cairns (1980) dalam buku sri anitah (2008:11.6) diungkapkan definisi disiplin yaitu:
Pertama, disiplin diartikan tingkat keteraturan yang terdapat pada satu kelompok.
Kedua, disiplin kelas diartikan sebagai teknik yang digunakan oleh guru untuk membangun atau memelihara keteraturan didalam kelas.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kelas.
1. Faktor Fisik
Disiplin kelas dilandasi oleh adanya interaksi guru-siswa dalam konteks (hubungan) kelas maka faktor fisik yang mempengaruhi disiplin kelas juga mencakup guru, siswa, dan ruang kelas.
2. Faktor sosial
Hubungan antara guru-siswa dan tentunya siswa dengan siswa terjadi didalam kelas.
3. Faktor psikologis
Faktor psikologis atau kejiwaan juga dianggap sangat berpengaruh pada tingkat kedisiplinan siswa. Faktor psikologis mencakup, antara lain perasaan (seperti sedih, senang, marah, bosan, benci) dan kebutuhan seperti keinginan untuk dihargai, diakui, dan disayangi)
C. Strategi Penanaman dan Penanganan Disiplin Kelas.
1. Pandangan yang menyatakan bahwa guru harus berusaha agar siswa mengerjakan apa yang diinginkan guru.
2. Menurut Kohn (1996) dalam buku sri anitah(2008) menegaskan bahwa guru seharusnya mulai dengan pertanyaan " apa yang diperlukan oleh anak-anak, dan bagaimana cara saya untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
3. Pandangan yang berfokus pada kebutuhan siswa ini tampaknya senada dengan pandangan yang diulas oleh Winzer (1995), dalam buku sri anita(2008:11.21) yang menyatakan bahkan pendekatan yang berhasil dalam membangun disiplin adalah pendekatan yang menghormati hak individu, mendorong peningkatan bahwa pendekatan yang menghirmati hak individu, mendorong peningkatan konsep diri siswa, serta memupuk kerja sama.
4. Pandangan humanistik adalah pandangan yang menekankan kemanusian
5. Pandangan terakhir yang perlu kita simak adalah pandangan kaum behavioris, yang berpendapat bahwa perilaku dapat dipelajari dan dikontrol.
D. Strategi Penanaman Disiplin kelas.
1. Modelkan tata tertib yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Contoh nyata alat mengajar dan mendidik yang terbaik, terutama bagi anak-anak SD. Melalui model atau contoh yang diperlihatkan oleh guru, anak-anak akan dapat melihat langsung perilaku, keterampilan, dan sikap yang dianjurkan.
2. Adakan pertemuan kelas secara berkala, terutama jika ada aturan yang perlu ditinjau kembali.
3. Terapkan aturan secara fleksibel (luwes) sehingga siswa tidak merasa tertekan.
4. Sesuaikan penerapan aturan dengan tingkat perkembangan anak.
5. Libatkan siswa dalam membuat aturan kelas.
E. Strategi Penaganan Disiplin Kelas.
1. Menangani gangguan ringan.
Gangguan-gangguan ringan ini jika dibiarkan mungkin akan berkembang memjadi gangguan berat. Untuk mengatasi gangguan ringan berbagai strategi/teknik dapat anda terapkan yaitu:
a. Mengabaikan.
b. Menatap agak lama.
c. Menggunakan tanda nonverbal.
d. Mendekati.
e. Memanggil nama.
f. Mengabaikan secara sengaja.
2. Menangani gangguan berat.
Adalah pelanggaran yang dilakukan siswa yang dapat mempengaruhi siswa lain atau mengganggu jalannya pelajaran. Strategi yang dimukakan oleh Winzer (1995) dalam buku sri anitah(2008) yaitu:
a. Memberikan hukuman.
b. Melibatkan orang tua.
3. Menanggani Perilaku Agresif.
Adalah perilaku menyerang yang ditunjukan oleh siswa didalam kelas.
a. Mengubah/ menukar teman duduk.
b. Perselisihan yang tidak perlu.
c. Hindarkan diri dari mengucapkan kata-kata yang kasar atau yang bersifat menghina.
d. Konsultasi dengan pihak lain.
Daftar Rujukan
- Anitah Sry, dkk. 2008. Strategi pelajaran SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
A. Hakikat Disiplin Kelas.
Disiplin berarti ketaatan terhadap aturan, baik aturan untuk umum maupun kelompok tertentu, dan bahkan aturan yang kita buat untuk diri kita sendiri. Menurut Turney & Cairns (1980) dalam buku sri anitah (2008:11.6) diungkapkan definisi disiplin yaitu:
Pertama, disiplin diartikan tingkat keteraturan yang terdapat pada satu kelompok.
Kedua, disiplin kelas diartikan sebagai teknik yang digunakan oleh guru untuk membangun atau memelihara keteraturan didalam kelas.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kelas.
1. Faktor Fisik
Disiplin kelas dilandasi oleh adanya interaksi guru-siswa dalam konteks (hubungan) kelas maka faktor fisik yang mempengaruhi disiplin kelas juga mencakup guru, siswa, dan ruang kelas.
2. Faktor sosial
Hubungan antara guru-siswa dan tentunya siswa dengan siswa terjadi didalam kelas.
3. Faktor psikologis
Faktor psikologis atau kejiwaan juga dianggap sangat berpengaruh pada tingkat kedisiplinan siswa. Faktor psikologis mencakup, antara lain perasaan (seperti sedih, senang, marah, bosan, benci) dan kebutuhan seperti keinginan untuk dihargai, diakui, dan disayangi)
C. Strategi Penanaman dan Penanganan Disiplin Kelas.
1. Pandangan yang menyatakan bahwa guru harus berusaha agar siswa mengerjakan apa yang diinginkan guru.
2. Menurut Kohn (1996) dalam buku sri anitah(2008) menegaskan bahwa guru seharusnya mulai dengan pertanyaan " apa yang diperlukan oleh anak-anak, dan bagaimana cara saya untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
3. Pandangan yang berfokus pada kebutuhan siswa ini tampaknya senada dengan pandangan yang diulas oleh Winzer (1995), dalam buku sri anita(2008:11.21) yang menyatakan bahkan pendekatan yang berhasil dalam membangun disiplin adalah pendekatan yang menghormati hak individu, mendorong peningkatan bahwa pendekatan yang menghirmati hak individu, mendorong peningkatan konsep diri siswa, serta memupuk kerja sama.
4. Pandangan humanistik adalah pandangan yang menekankan kemanusian
5. Pandangan terakhir yang perlu kita simak adalah pandangan kaum behavioris, yang berpendapat bahwa perilaku dapat dipelajari dan dikontrol.
D. Strategi Penanaman Disiplin kelas.
1. Modelkan tata tertib yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Contoh nyata alat mengajar dan mendidik yang terbaik, terutama bagi anak-anak SD. Melalui model atau contoh yang diperlihatkan oleh guru, anak-anak akan dapat melihat langsung perilaku, keterampilan, dan sikap yang dianjurkan.
2. Adakan pertemuan kelas secara berkala, terutama jika ada aturan yang perlu ditinjau kembali.
3. Terapkan aturan secara fleksibel (luwes) sehingga siswa tidak merasa tertekan.
4. Sesuaikan penerapan aturan dengan tingkat perkembangan anak.
5. Libatkan siswa dalam membuat aturan kelas.
E. Strategi Penaganan Disiplin Kelas.
1. Menangani gangguan ringan.
Gangguan-gangguan ringan ini jika dibiarkan mungkin akan berkembang memjadi gangguan berat. Untuk mengatasi gangguan ringan berbagai strategi/teknik dapat anda terapkan yaitu:
a. Mengabaikan.
b. Menatap agak lama.
c. Menggunakan tanda nonverbal.
d. Mendekati.
e. Memanggil nama.
f. Mengabaikan secara sengaja.
2. Menangani gangguan berat.
Adalah pelanggaran yang dilakukan siswa yang dapat mempengaruhi siswa lain atau mengganggu jalannya pelajaran. Strategi yang dimukakan oleh Winzer (1995) dalam buku sri anitah(2008) yaitu:
a. Memberikan hukuman.
b. Melibatkan orang tua.
3. Menanggani Perilaku Agresif.
Adalah perilaku menyerang yang ditunjukan oleh siswa didalam kelas.
a. Mengubah/ menukar teman duduk.
b. Perselisihan yang tidak perlu.
c. Hindarkan diri dari mengucapkan kata-kata yang kasar atau yang bersifat menghina.
d. Konsultasi dengan pihak lain.
Daftar Rujukan
- Anitah Sry, dkk. 2008. Strategi pelajaran SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Rabu, 15 Mei 2019
Pengelolaan kelas
A. Hakikat pengelolaan kelas.
Dalam buku Sri Anitah (2008:10.4) bahwa Pendekatan permisif menyatakan pengelolaan kelas adalah kegiatan guru dalam memaksimalkan kebebasan siswa. Peran guru adalah membantu siswa merasakan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan kapan pun mereka mau(Weber, 1977).
Menurut Weber (1977) dalam buku Sri Anitah (2008:10.5-10.6) yaitu:pertama, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku yang tidak diharapkan. Berdasarkan pendekatan modifikasi tingkah laku peran guru dalam pengelolaan kelas adalah membantu siswa mempelajari tingkah laku yang diharapkan melalui penerapan prinsip-prinsip yang berasal dari teori penguatan. Kedua, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas positif. Pendekatan ini, peran guru dalam pengelolaan kelas adalah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui penciptaan hubungan interpersonal yang sehat, baik antara guru dan siswa maupun antara siswa dan siswa. Ketiga, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang efektif. Pendekatan proses kelompok peran guru disini adalah membantu mengembangkan dan melaksanakan sistem kelas yang efektif.
Pengelolaan kelas adalah serangkaian tindakan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tiak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif atau secara singkat: pengelolaan kelas adalah usaha guru untuk menciptakan, memelihara, dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif.
Menurut Winzer(1995) dalam buku Sri Anitah (2008:10.8) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
B. Perbedaan pengelolaan kelas dari pembelajaran.
Dalam buku sri anitah (2008:10.8) perbedaan ini dapat kita lihat dari masing-masing tujuan pengelolaan kelas dan tujuan pembelajaran yaitu pengelolaan kelas bertujuan untuk menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan berlasungnya proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan pembelajaran mempunyai tujuan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.
C. Pentingnya Pengelolaan Kelas Dalam Proses Pembelajaran.
Dalam uraian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa mencapau tujuan pembelajaran dan pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat terciptanya pembelajaran yang efektif.
Penataan lingkungan kelas
A. Penataan Lingkungan Fisik Kelas.
Pengelolaan kelas yang efektif bermula dari penataan ruangan kelas dan isinya. Apa yang sebaiknya dilakukan guru dalam menata ruangan kelas dan isinya sehingga kelas memjadi lingkungan yang menarik dan efektif.
1. Prinsip-prinsip penataan lingkungan fisik kelas.
Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruangan kelas yang menarik, efektif serta mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Louisell (1992) dalam buku sri anita (2008:10.18) ketika menata lingkungan fisik kelas guru harus mempertimbangkan 5 hal berikut:
a. Keleluasaan pandangan.
Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata ruangan kelas ialah keleluasaan pandangan . Artinya, penempatan atau penataan barang-barang didalam kelas tidak menganggu pandangan siswa dan guru sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru atau benda/kegiatan yang sedang berlangsung.
b. Mudah dicapai.
Ruangan hendaknya diatur dengan baik sehingga lalu lintas kegiatan belajar di kelas tidak terganggu.
c. Keluwesan.
Barang-barang yang ada didalam kelas hendanya mudah untuk ditata dan di pindah-pindahkan sesuai dengan tuntunan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa dan guru.
d. Kenyamanan.
Prinsip kenyamanan ini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
e. Keindahan.
Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran .
2. Penataan Tempat Duduk.
Dalam menata tempat duduk, guru harus memperhatikan tujuan dan strategi pembelajaran. Seperti apabila tempat duduk yang ditata berjejer menghadap guru bertujuan untuk meningkatkan jumlah kerja yang dilakukan siswa. Tempat duduk yang membentuk huruf V strategi yang cocok dilaksanakan adalah metode ceramah juga tepat untuk diskusi kelas. Tempat duduk yang berhadap-hadapan dua orang dengan penataan tempat duduk seperti ini siswa dapat berlangsung bekerja kelompok setelah guru memberikan informasi umum tentang tugas-tugas yang harus dilaksanakan siswa dalam diskusi/ kerja kelompok.
B. Penataan Lingkungan psiko-sosial Kelas.
Meskipun penataan lingkungan fisik kelas merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kelas, keadaan lingkungan psiko-sosial kelas juga tidak kalah pentingnya dalam menciptakan kelas yng kondusif bagi proses pembelajaran. Bahkan Winzer (1995) memyatakan bahwa iklim psiko-sosial kelas berpengaruh terhadap hasil belajar, konsep diri, rasa harga diri, dan sikap siswa terhadap sekolah.
Iklim psiko-sosial kelas kelas berkenaan dengan hubungan sosial-pribadi antara guru dan siswa serta antarsiswa. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta antarsiswa. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta antarsiswa akan dapat menciptakan iklim psiko-sosial kelas yang sehat dan efektif bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
1. Karakteristik Guru.
Berkenaan dengan pengelolaan iklim psiko-sosial kelas, Bandura (Good dan Brophy, 1990) dalam buku sri anita (2008:10.23) menyatakan bahwa keberhasilan guru dalam mengelola iklim psiko-sosial kelas dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri.
a. Disukai oleh siswanya
b. Akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru-siswa.
c. Bersikap positif terhadap pertanyaan/respons siswa.
d. Sabar, tenguh dan tegas.
2. Hubungan sosial antara siswa.
Hubungan soial kurang baik antarsiswa dapat mengganggu lancarnya kegiatan pembelajaran.
Agar kegiatan kelompok dapat berhasil dengan baik guru harus memperhatikan hal-hal berikut (Weber, 1977) dalam buku sri anitah menyatakan yaitu:
a. Perilaku yang diharapkan.
b. Fungsi kepemimpinan.
c. Pola persahabatan siswa.
d. Norma/aturan.
e. Kemampuan berkomunikasi.
F. Kebersamaan.
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Sumantri Mohammad Syarif. 2016. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktik Di Tingkat Penndidikan Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.
A. Hakikat pengelolaan kelas.
Dalam buku Sri Anitah (2008:10.4) bahwa Pendekatan permisif menyatakan pengelolaan kelas adalah kegiatan guru dalam memaksimalkan kebebasan siswa. Peran guru adalah membantu siswa merasakan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan kapan pun mereka mau(Weber, 1977).
Menurut Weber (1977) dalam buku Sri Anitah (2008:10.5-10.6) yaitu:pertama, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku yang tidak diharapkan. Berdasarkan pendekatan modifikasi tingkah laku peran guru dalam pengelolaan kelas adalah membantu siswa mempelajari tingkah laku yang diharapkan melalui penerapan prinsip-prinsip yang berasal dari teori penguatan. Kedua, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas positif. Pendekatan ini, peran guru dalam pengelolaan kelas adalah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui penciptaan hubungan interpersonal yang sehat, baik antara guru dan siswa maupun antara siswa dan siswa. Ketiga, pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang efektif. Pendekatan proses kelompok peran guru disini adalah membantu mengembangkan dan melaksanakan sistem kelas yang efektif.
Pengelolaan kelas adalah serangkaian tindakan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tiak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif atau secara singkat: pengelolaan kelas adalah usaha guru untuk menciptakan, memelihara, dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif.
Menurut Winzer(1995) dalam buku Sri Anitah (2008:10.8) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
B. Perbedaan pengelolaan kelas dari pembelajaran.
Dalam buku sri anitah (2008:10.8) perbedaan ini dapat kita lihat dari masing-masing tujuan pengelolaan kelas dan tujuan pembelajaran yaitu pengelolaan kelas bertujuan untuk menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan berlasungnya proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan pembelajaran mempunyai tujuan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.
C. Pentingnya Pengelolaan Kelas Dalam Proses Pembelajaran.
Dalam uraian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk membantu siswa mencapau tujuan pembelajaran dan pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat terciptanya pembelajaran yang efektif.
Penataan lingkungan kelas
A. Penataan Lingkungan Fisik Kelas.
Pengelolaan kelas yang efektif bermula dari penataan ruangan kelas dan isinya. Apa yang sebaiknya dilakukan guru dalam menata ruangan kelas dan isinya sehingga kelas memjadi lingkungan yang menarik dan efektif.
1. Prinsip-prinsip penataan lingkungan fisik kelas.
Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruangan kelas yang menarik, efektif serta mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Louisell (1992) dalam buku sri anita (2008:10.18) ketika menata lingkungan fisik kelas guru harus mempertimbangkan 5 hal berikut:
a. Keleluasaan pandangan.
Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata ruangan kelas ialah keleluasaan pandangan . Artinya, penempatan atau penataan barang-barang didalam kelas tidak menganggu pandangan siswa dan guru sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru atau benda/kegiatan yang sedang berlangsung.
b. Mudah dicapai.
Ruangan hendaknya diatur dengan baik sehingga lalu lintas kegiatan belajar di kelas tidak terganggu.
c. Keluwesan.
Barang-barang yang ada didalam kelas hendanya mudah untuk ditata dan di pindah-pindahkan sesuai dengan tuntunan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa dan guru.
d. Kenyamanan.
Prinsip kenyamanan ini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
e. Keindahan.
Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran .
2. Penataan Tempat Duduk.
Dalam menata tempat duduk, guru harus memperhatikan tujuan dan strategi pembelajaran. Seperti apabila tempat duduk yang ditata berjejer menghadap guru bertujuan untuk meningkatkan jumlah kerja yang dilakukan siswa. Tempat duduk yang membentuk huruf V strategi yang cocok dilaksanakan adalah metode ceramah juga tepat untuk diskusi kelas. Tempat duduk yang berhadap-hadapan dua orang dengan penataan tempat duduk seperti ini siswa dapat berlangsung bekerja kelompok setelah guru memberikan informasi umum tentang tugas-tugas yang harus dilaksanakan siswa dalam diskusi/ kerja kelompok.
B. Penataan Lingkungan psiko-sosial Kelas.
Meskipun penataan lingkungan fisik kelas merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kelas, keadaan lingkungan psiko-sosial kelas juga tidak kalah pentingnya dalam menciptakan kelas yng kondusif bagi proses pembelajaran. Bahkan Winzer (1995) memyatakan bahwa iklim psiko-sosial kelas berpengaruh terhadap hasil belajar, konsep diri, rasa harga diri, dan sikap siswa terhadap sekolah.
Iklim psiko-sosial kelas kelas berkenaan dengan hubungan sosial-pribadi antara guru dan siswa serta antarsiswa. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta antarsiswa. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta antarsiswa akan dapat menciptakan iklim psiko-sosial kelas yang sehat dan efektif bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
1. Karakteristik Guru.
Berkenaan dengan pengelolaan iklim psiko-sosial kelas, Bandura (Good dan Brophy, 1990) dalam buku sri anita (2008:10.23) menyatakan bahwa keberhasilan guru dalam mengelola iklim psiko-sosial kelas dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri.
a. Disukai oleh siswanya
b. Akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru-siswa.
c. Bersikap positif terhadap pertanyaan/respons siswa.
d. Sabar, tenguh dan tegas.
2. Hubungan sosial antara siswa.
Hubungan soial kurang baik antarsiswa dapat mengganggu lancarnya kegiatan pembelajaran.
Agar kegiatan kelompok dapat berhasil dengan baik guru harus memperhatikan hal-hal berikut (Weber, 1977) dalam buku sri anitah menyatakan yaitu:
a. Perilaku yang diharapkan.
b. Fungsi kepemimpinan.
c. Pola persahabatan siswa.
d. Norma/aturan.
e. Kemampuan berkomunikasi.
F. Kebersamaan.
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Sumantri Mohammad Syarif. 2016. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktik Di Tingkat Penndidikan Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.
Selasa, 14 Mei 2019
Kegiatan Remedial dan Kegiatan Pengayaan.
Kegiatan remedial.
A. Hakikat, Tujuan, Dan Fungsi Kegiatan Remedial.
1. Hakikat kegiatan Remedial.
Dalam buku Sri Anitah (2008:9.4) Remedial adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki keterampilan yang kurang baik dalam suatu bidang tertentu. Kalau kita kaitkan dengan kegiatan pembelajaran, kegiatan remedial dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang kurang berhasil.
Kegiatan remedial adalah kegiatan membantu siswa dalam.menguasai materi pelajaran. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan remedial adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.
Program remedial dalam buku mohammad syarif sumantri (2016: 422) adalah program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kopetensi minimalnya dalam satu kopetensi dasar tertentu.
Sedangkan program pengayaan dalam buku mohammad syarif sumantri (2016:438) adalah memberikan tambahan atau perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum.
2. Tujuan dan fungsi kegiatan remedial.
Dalam buku Sri Anitah (2008:9.4) tujuan diadakan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Secara umum, tujuan kegiatan remedial adalah sama dengan pembelajaran biasa yaitu membantu siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Secara khusus, kegiatan remedial bertujuan untuk membantu siswa yang belum menguasai materi pelajaran melalui kegiatan pembelajaran tambahan.
Fungsi kegiatan remedial dalam buku Sri Anitah (2008:9.5) yaitu:
- korektif : memperbaiki cara mengajar dan cara belajar.
- pemahaman : memahami kelebihan/kelemahan guru an siswa.
- penyesuaian : menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa.
- pengayaan : menerapkan strategi pembelajaran yang bervariasi.
- akselerasi : mempercepat penguasaan materi.
- terapeutik : membantu mengatasi masalah sosial-pribadi.
B. Pendekatan Dalam Kegiatan Remedial.
Menurut Warkitri dkk. (1991) mengemukakan tiga pendekatan dalam kegiatan remedial. Dalam buku Sri Anitah (2008:9.12-9.14) yaitu:
1. Pendekatan yang bersifat preventif.
Kegiatan remedial dipandang bersifat preventif apabila kegiatan remedial dialaksanakan untuk membantu siswa yang diduga akan mengalami kesulitan dalam menguasai kopentensi yang telah ditetapkan. Kegiatan remedial yang bersifat preventif diaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa dilaksanakan.
2. Pendekatan yang bersifat kuratif.
Kegiatan remedial dipandang bersifat kuratof apabila dilaksanakan kegiatan remedial ditujukan untuk membantu mengatasi kesulitan siswa setelah siswa mengikuti pembelajaran biasa. Kegiatan remedial yang bersifat kuratif dilaksanakan karena berdasarkan hasil evauasi pada kegiatan pembelajaran biasa diketahui bahwa siswa belum mencapai kriteria keberhasilan atau kopetensi minimal yang telah ditetapkan.
3. Pendekatan yang bersifat pengembangan.
Kegiatan remedial dipandang bersifat pengembangan apabila kegiatan renedial dilaksanakan selama berlangsungny kegiatan pembelajaran biasa.
C. Jenis-Jenis kegiatan remedial.
Menurut ( suke, 1991) dalam buku Sri Anitah (2008:9.15-9.16) yaitu:
1. Mengajarkan Kembali.
Melalui bentuk kegiatan ini, guru menjelaskan kembali materi yang belum dipahami atau dikuasai siswa.
2. Menggunakan alat praga.
Untuk lebih memudahkan siswa memahami konsep yang belum dikuasainya, guru sebaiknya menggunakan alat peraga dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan alat praga tersebut.
3. Kegiatan kelompok.
Diskusi ataupun kerja kelompok dapat digunakan guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai kompetensi yang dituntut.
D. Prinsip Pelaksanaan Kegiatan Remedial.
Dalam buku Sri Anitah (2008:9.17-9.18) yaitu:
1. Apabila terdapat beberapa orang siswa yang mengalami kesulitan yang sama, kegiatan remedial tersebut hendaknya diberikan terhadap kelompok siswa secara bersama-sama, apabila kesulitan yang dihadapi seorang siswa berbeda dengan siswa lain maka tugas diberi secara individual.
2. Proporsi bantuan yang diberikan hendaknya sesuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa.
3. Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sendiri oleh guru, guru bersama-sama siswa.
4. Metode yang diterapkan dalam kegiatan remedial hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan serta dapat membangkitkan motivasi pada diri siswa untuk belajar lebih giat dan lebih tekun.
E. Prinsip Pemilihan Kegiatan.
Menurut wardani (1991) dalam buku Sri anitah (2008:9.19) adalah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan latihan khusus, terutama bagi siswa yang mempunyai daya tangkap lemah.
2. Menekankan pada segi kekuatan yang dimiliki siswa.
3. Memanfaatkan penggunaan media.
4 memanfaatkan permainan sebagai sarana belajar, terutama bagi siswa yang kurang memiliki motivasi untuk belajar.
Kegiatan pengayaan.
A. Hakikat kegiatan pengayaan.
Dalam buku sri anitah (2008:9.32) kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok dalam memanfaatkan kelebihan waktu yang dimilikinya sehingga mereka memiliki pengetahuan yang lebih kaya dan keterampilan yang lebih baik. Kegiatan pengayaan dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran biasa atau diluar jam pelajaran.
Tujuan kegiatan pengayaan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
B. Jenis kegiatan pengayaan.
1. Tutor sebaya.
Kegiatan tutor sebaya selain dapat digunakan dalam kegiatan remedial, juga sangat efektif untuk kegiatan pengayaan. Membantu siswa lain memahami materi pelajaran dapat merupakan kegiatan penambahan wawasan pengetahuan siswa.
2. Mengembangkan latihan.
Disamping memberikan tutorial kepada temannya, siswa kelompok cepat dapat juga diminta untuk memgembangkan latihan praktis yang dapat dilaksanakan oleh teman-temannya yang lambat sehingga mereka akan lebih mudah memahami materi pelajaran.
3. Mengembangkan media dan sumber pembelajaran.
Memberikan kesempatan untuk siswa menghasilkan suatu karya yang berkaitan dengan materi yang di pelajari merupakan sesuatu yang menarik bagi siswa kelomok cepat.
C. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan pengayaan.
1. Faktor siswa.
Dalam menentukan jenis kegiatan pengayaan yang akan dilaksanakan, guru harus memperhatikan karakteristik siswa, baik yang berkenaan dengan faktor minat maupun dengan faktor minat maupun dengan faktor psikologi lainnya.
2. Faktor manfaat Edukatif.
Sesuai dengan tujuan utama pemberian kegiatan pengayaan, yaitu untuk memberikan kesempatan ada siswa berkembang secara optimal maka kegiatan pengayaan harus memberikan manfaat bagi siswa.
3. Faktor waktu.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa kegiatan pengayaan diberikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dengan memanfaatkan kelebihan waktu, sementara siswa lain masih melakukan kegiatan remedial.
Daftar Rujukan
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Andriani Ayu. 2018. Praktis Membuat Buku Kerja Guru. Jawa Barat: Cv Jejak.
- Sumantri Mohammad Syarif. 2016. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktik Di Tingkat Penndidikan Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.
Kegiatan remedial.
A. Hakikat, Tujuan, Dan Fungsi Kegiatan Remedial.
1. Hakikat kegiatan Remedial.
Dalam buku Sri Anitah (2008:9.4) Remedial adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki keterampilan yang kurang baik dalam suatu bidang tertentu. Kalau kita kaitkan dengan kegiatan pembelajaran, kegiatan remedial dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang kurang berhasil.
Kegiatan remedial adalah kegiatan membantu siswa dalam.menguasai materi pelajaran. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan remedial adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.
Program remedial dalam buku mohammad syarif sumantri (2016: 422) adalah program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kopetensi minimalnya dalam satu kopetensi dasar tertentu.
Sedangkan program pengayaan dalam buku mohammad syarif sumantri (2016:438) adalah memberikan tambahan atau perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum.
2. Tujuan dan fungsi kegiatan remedial.
Dalam buku Sri Anitah (2008:9.4) tujuan diadakan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Secara umum, tujuan kegiatan remedial adalah sama dengan pembelajaran biasa yaitu membantu siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Secara khusus, kegiatan remedial bertujuan untuk membantu siswa yang belum menguasai materi pelajaran melalui kegiatan pembelajaran tambahan.
Fungsi kegiatan remedial dalam buku Sri Anitah (2008:9.5) yaitu:
- korektif : memperbaiki cara mengajar dan cara belajar.
- pemahaman : memahami kelebihan/kelemahan guru an siswa.
- penyesuaian : menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa.
- pengayaan : menerapkan strategi pembelajaran yang bervariasi.
- akselerasi : mempercepat penguasaan materi.
- terapeutik : membantu mengatasi masalah sosial-pribadi.
B. Pendekatan Dalam Kegiatan Remedial.
Menurut Warkitri dkk. (1991) mengemukakan tiga pendekatan dalam kegiatan remedial. Dalam buku Sri Anitah (2008:9.12-9.14) yaitu:
1. Pendekatan yang bersifat preventif.
Kegiatan remedial dipandang bersifat preventif apabila kegiatan remedial dialaksanakan untuk membantu siswa yang diduga akan mengalami kesulitan dalam menguasai kopentensi yang telah ditetapkan. Kegiatan remedial yang bersifat preventif diaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa dilaksanakan.
2. Pendekatan yang bersifat kuratif.
Kegiatan remedial dipandang bersifat kuratof apabila dilaksanakan kegiatan remedial ditujukan untuk membantu mengatasi kesulitan siswa setelah siswa mengikuti pembelajaran biasa. Kegiatan remedial yang bersifat kuratif dilaksanakan karena berdasarkan hasil evauasi pada kegiatan pembelajaran biasa diketahui bahwa siswa belum mencapai kriteria keberhasilan atau kopetensi minimal yang telah ditetapkan.
3. Pendekatan yang bersifat pengembangan.
Kegiatan remedial dipandang bersifat pengembangan apabila kegiatan renedial dilaksanakan selama berlangsungny kegiatan pembelajaran biasa.
C. Jenis-Jenis kegiatan remedial.
Menurut ( suke, 1991) dalam buku Sri Anitah (2008:9.15-9.16) yaitu:
1. Mengajarkan Kembali.
Melalui bentuk kegiatan ini, guru menjelaskan kembali materi yang belum dipahami atau dikuasai siswa.
2. Menggunakan alat praga.
Untuk lebih memudahkan siswa memahami konsep yang belum dikuasainya, guru sebaiknya menggunakan alat peraga dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan alat praga tersebut.
3. Kegiatan kelompok.
Diskusi ataupun kerja kelompok dapat digunakan guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai kompetensi yang dituntut.
D. Prinsip Pelaksanaan Kegiatan Remedial.
Dalam buku Sri Anitah (2008:9.17-9.18) yaitu:
1. Apabila terdapat beberapa orang siswa yang mengalami kesulitan yang sama, kegiatan remedial tersebut hendaknya diberikan terhadap kelompok siswa secara bersama-sama, apabila kesulitan yang dihadapi seorang siswa berbeda dengan siswa lain maka tugas diberi secara individual.
2. Proporsi bantuan yang diberikan hendaknya sesuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa.
3. Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sendiri oleh guru, guru bersama-sama siswa.
4. Metode yang diterapkan dalam kegiatan remedial hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan serta dapat membangkitkan motivasi pada diri siswa untuk belajar lebih giat dan lebih tekun.
E. Prinsip Pemilihan Kegiatan.
Menurut wardani (1991) dalam buku Sri anitah (2008:9.19) adalah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan latihan khusus, terutama bagi siswa yang mempunyai daya tangkap lemah.
2. Menekankan pada segi kekuatan yang dimiliki siswa.
3. Memanfaatkan penggunaan media.
4 memanfaatkan permainan sebagai sarana belajar, terutama bagi siswa yang kurang memiliki motivasi untuk belajar.
Kegiatan pengayaan.
A. Hakikat kegiatan pengayaan.
Dalam buku sri anitah (2008:9.32) kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok dalam memanfaatkan kelebihan waktu yang dimilikinya sehingga mereka memiliki pengetahuan yang lebih kaya dan keterampilan yang lebih baik. Kegiatan pengayaan dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran biasa atau diluar jam pelajaran.
Tujuan kegiatan pengayaan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
B. Jenis kegiatan pengayaan.
1. Tutor sebaya.
Kegiatan tutor sebaya selain dapat digunakan dalam kegiatan remedial, juga sangat efektif untuk kegiatan pengayaan. Membantu siswa lain memahami materi pelajaran dapat merupakan kegiatan penambahan wawasan pengetahuan siswa.
2. Mengembangkan latihan.
Disamping memberikan tutorial kepada temannya, siswa kelompok cepat dapat juga diminta untuk memgembangkan latihan praktis yang dapat dilaksanakan oleh teman-temannya yang lambat sehingga mereka akan lebih mudah memahami materi pelajaran.
3. Mengembangkan media dan sumber pembelajaran.
Memberikan kesempatan untuk siswa menghasilkan suatu karya yang berkaitan dengan materi yang di pelajari merupakan sesuatu yang menarik bagi siswa kelomok cepat.
C. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan pengayaan.
1. Faktor siswa.
Dalam menentukan jenis kegiatan pengayaan yang akan dilaksanakan, guru harus memperhatikan karakteristik siswa, baik yang berkenaan dengan faktor minat maupun dengan faktor minat maupun dengan faktor psikologi lainnya.
2. Faktor manfaat Edukatif.
Sesuai dengan tujuan utama pemberian kegiatan pengayaan, yaitu untuk memberikan kesempatan ada siswa berkembang secara optimal maka kegiatan pengayaan harus memberikan manfaat bagi siswa.
3. Faktor waktu.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa kegiatan pengayaan diberikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dengan memanfaatkan kelebihan waktu, sementara siswa lain masih melakukan kegiatan remedial.
Daftar Rujukan
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Andriani Ayu. 2018. Praktis Membuat Buku Kerja Guru. Jawa Barat: Cv Jejak.
- Sumantri Mohammad Syarif. 2016. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktik Di Tingkat Penndidikan Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.
Rabu, 08 Mei 2019
Keterampilan dasar mengajar 2
Dalam buku sri anitah (2008:8.3-8.63) menjelaskan bahwa:
A. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran.
Pengertian dan Tujuan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan membuka pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam memulai kegiatan pelajaran, sedangkan keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam mengakhiri pelajaran.
Kegiatan membuka pelajaran merupakan kegiatan menyiapkan siswa untuk memasuki inti kegiatan, sedangkan kegiatan menutup adalah kegiatan untuk memantapkan atau menindak lanjuti topik yang telah dibahas.
Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan membuka pelajaran adalah:
1. Menyiapkan mental siswa untuk memasuki kagiatan inti pelajaran.
2. Membangkitkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran.
3. Memberikan gambaran yang jelas tentang batas-batas tugas yang harus dikerjakan siswa.
Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan menutup pelajaran adalah:
1. Memantapkan pemahaman siswa terhadap kegiatan belajar yang telah berlangsung.
2. Mengetahui keberhasilan siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran yang telah dijalani.
3. Memberikan tindak lanjut untuk mengembangkan kemampuan yang baru saja dikuasai.
B. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
Syarat-syarat diskusi kelompok kecil adalah sebagai berikut:
1. Meibatkan kelompok ang anggotanya berkisar antara 3-9 orang.
2. Berlangsung dalam situasi tatap muka yang informal artinya semua anggota kelompok berkesrmpatan saling melihat, mendengar, serta berkomunikasi secara bebas dan langsung.
3. Mempunyai tujuan yang mengikat anggota kelompok sehingga terjadi kerja sama untuk mencapainya.
4. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada tercapainya tujuan kelompok.
C. Ketrampilan mengelola kelas.
Ketrampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan, agar mampu mengelola kelas secara efektif, guru harus memperhatikan berbagai hal:
a. Kehangatan guru sangat berperan dalam menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
b. Kata-kata dan tindakkan guru yang dapat menggugah siswa untuk belajar dan berprilaku baik akan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang menyimpang.
c. Penggunaan variasi dalam mengajar dapat mengurangi terjadinya gangguan.
d. Keluwesan guru dalam kegiatan pembelajaran dapat mencegah munculnya gangguan.
e. Guru harus selalu menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif.
f. Guru hendaknya mampu menjadi contoh dalam menanamkan disiplin diri sendiri.
D. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan ditandai oleh ciri-ciri berikut:
1. Terjadi hubungan (interaksi) yang akrab dan sehat antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa.
2. Siswa belajar sesuai dengan kecepatan,cara,kemampuan,dan minatnya sendiri.
3. Siswa mendapatkan bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya.
4. Siswa dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar yang akan ditempuh, materi dan alat yang akan digunakan, dan bahkan tujuan yang ingin dicapai.
Daftar Rujukan
- Anitah Sri.2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Dalam buku sri anitah (2008:8.3-8.63) menjelaskan bahwa:
A. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran.
Pengertian dan Tujuan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan membuka pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam memulai kegiatan pelajaran, sedangkan keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam mengakhiri pelajaran.
Kegiatan membuka pelajaran merupakan kegiatan menyiapkan siswa untuk memasuki inti kegiatan, sedangkan kegiatan menutup adalah kegiatan untuk memantapkan atau menindak lanjuti topik yang telah dibahas.
Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan membuka pelajaran adalah:
1. Menyiapkan mental siswa untuk memasuki kagiatan inti pelajaran.
2. Membangkitkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran.
3. Memberikan gambaran yang jelas tentang batas-batas tugas yang harus dikerjakan siswa.
Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan menutup pelajaran adalah:
1. Memantapkan pemahaman siswa terhadap kegiatan belajar yang telah berlangsung.
2. Mengetahui keberhasilan siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran yang telah dijalani.
3. Memberikan tindak lanjut untuk mengembangkan kemampuan yang baru saja dikuasai.
B. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
Syarat-syarat diskusi kelompok kecil adalah sebagai berikut:
1. Meibatkan kelompok ang anggotanya berkisar antara 3-9 orang.
2. Berlangsung dalam situasi tatap muka yang informal artinya semua anggota kelompok berkesrmpatan saling melihat, mendengar, serta berkomunikasi secara bebas dan langsung.
3. Mempunyai tujuan yang mengikat anggota kelompok sehingga terjadi kerja sama untuk mencapainya.
4. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada tercapainya tujuan kelompok.
C. Ketrampilan mengelola kelas.
Ketrampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan, agar mampu mengelola kelas secara efektif, guru harus memperhatikan berbagai hal:
a. Kehangatan guru sangat berperan dalam menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
b. Kata-kata dan tindakkan guru yang dapat menggugah siswa untuk belajar dan berprilaku baik akan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang menyimpang.
c. Penggunaan variasi dalam mengajar dapat mengurangi terjadinya gangguan.
d. Keluwesan guru dalam kegiatan pembelajaran dapat mencegah munculnya gangguan.
e. Guru harus selalu menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif.
f. Guru hendaknya mampu menjadi contoh dalam menanamkan disiplin diri sendiri.
D. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan ditandai oleh ciri-ciri berikut:
1. Terjadi hubungan (interaksi) yang akrab dan sehat antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa.
2. Siswa belajar sesuai dengan kecepatan,cara,kemampuan,dan minatnya sendiri.
3. Siswa mendapatkan bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya.
4. Siswa dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar yang akan ditempuh, materi dan alat yang akan digunakan, dan bahkan tujuan yang ingin dicapai.
Daftar Rujukan
- Anitah Sri.2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Rabu, 01 Mei 2019
Keterampilan Dasar Mengajar 1
Dalam Sri Anita(2008:7.1) Mengajar merupakan satu perkerjaan profesional, yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Keterampilan dasar mengajar merupakan satu keterampilan yang menuntut latihan yang terprogram untuk dapat menguasainya. Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara lebih efektif. Jenis-jenis keterampilan Dasar Mengajar :
1. Keterampilan bertanya.
Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang paling sederhana dibandingkan dengan keterampilan lainnya.
A. Rasional
Kegiatan bertanya dilakukan oleh semua orang tanpa memandang batas umur. Anak kecil sering mempertanyakan hal-hal yang ingin diketahuinya, bahkan pada masa perkembangan anak ada masa yang disebut "masa apa itu" yaitu masa anak kecil mempertanyakan segala sesuatu yang dilihatnya. Pada umumnya, tujuan bertanya adalah untuk memperoleh informasi, Namun, kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru, tidak hanya bertujuan untuk memperoleh informasi. Tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Yang lebih penting adalah untuk mendorong para suswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
B. Definisi dan fungsi pertanyaan.
Menurut G.A. Brown dan R. Edmondson (1984) dalam buku Sri anita(2008:7.6) mendefinisikan pertanyaan sebagai "segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan). Fungsi pertanyaan menurut Turney (1979) dalam buku Sri Anita (2018:7.7) adalah sebagai berikut :
1. Membangkitkan minat dan keingintahuan siswa tentang suatu topik.
2. Memusatkan perhatian pada masalah tertentu.
3. Mengalakkan penerapan belajar aktif.
4. Merangsang siswa mengajukan pertanyaan sendiri.
5. Memberi kesempatan untuk siswa berdiskusi.
C. Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya.
1. Keterampilan Bertanya Dasar.
a. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat.
b. Pemberian acuan .
c. Pemusatan.
d. Pemindahan giliran.
e. Penyebaran.
2. Keterampilan Bertanya Lanjut.
a. Pengubahan tuntunan kognitif dalam menjawab pertanyaan.
b. Pengaturan urutan pertanyaan.
c. Penggunaan pertanyaan pelacak
d. Peningkatan terjadinya interaksi.
D. Prinsip Penggunaan.
1. Keangatan dan keantusiasan.
2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan Berikut:
- Mengulangi pertanyaan sendiri
- Menjawab pertanyaan sendiri
- mengulangi jawaban siswa
3. Memberikan Waktu berpikir.
4. Mempersiapkan pertanyaan pokok yang akan diajukan.
5. Menilai pertanyaan yang telah diajukan.
2. Keterampilan Memberi Penguatan.
A. Pengertian dan Tujuan.
Dalam buku Sri Anitah (2008:7.25) Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningatnya perilaku/perbuatan yang dianggap baik. Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:
1. Meningkatkan perhatian siswa.
2. Membangkitkan dan memelihara motivasi.
3. Memudahkan siswa belajar.
4. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang positif.
5. Menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa.
6. Memelihara iklim kelas yang kondusif.
B. Komponen Keterampilan Memberi Penguatan.
1. Penguatan verbal.
Penguatan verbal merupakan penguatan yang paling mudah digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat diberikan dalam bentuk komentar, pujian, dukungan, pengakuan atau dorongan yang diharapkan dapat meningkat tingkah laku dan penampilan siswa.
2. Penguatan Nonverbal.
Penguatan nonverbal dapat ditunjukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
a. Mimik dan gerakan badan.
b. Gerakkan mendekati
c. Sentuhan
d. Kegiatan yang menyenaangkan.
3. Penguatan Tak Penuh.
Penguatan tak penuh diberikan untuk jawaban/respon siswa yang hanya sebagian benar dan sebagiannya harus di perbaiki.
C. Prinsip Penguatan.
1. Kehangatan dan keantusiasan.
2. Kebermaknaan
3. Menghindari penggunaan respons yang negatif.
3. Keterampilan mengadakan variasi.
A. Pengertian dan Tujuan.
Dalam buku Sri Anitah (2008:7.38) Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan/dibuat untuk memberikan kesan yang unik.
Variasi didalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal berikut:
1. Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar.
2. Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu.
3. Mengembangkan keinginan siswa untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru.
4. Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam.
5. Meningkatkan kadar keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
B. Komponen-Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi.
1. Variasi dalam gaya mengajar.
Gaya mengajar seorang guru sering dikaitkan dengan kepribadian guru tersebut sehingga sering terdengar diantara para siswa bahwa guru A selalu duduk ketika berbicara, guru B sering marah-marah, guru C suka bergurau dan sebagainya.
a. Variasi suara.
b. Pemusatan perhatian
c. Kesenyapan
d. Mengadakan kontak mata
e. Gerakan badan dan mimik
f. Perubahan dalam posisi guru.
2. Variasi pola interaksi dan kegiatan.
Pola interaksi dalam kegiatan pembelajaran dapat bervaroaso dari yang paling didominasi guru sampai yang berpusat pada siswa sendiri. Dilihat dari pengorganosasian siswa, pola interaksi dapat dibedakan atas pola interaksi klasikal, kelompok, dan perorangan. Berikut ini diberikan berbagai contoh variasi pola interaksi dan kegiatan:
a. Kegiatan klasikal
b. Kegiatan kelompok kecil
c. Kegiatan berpasangan.
d. Kegiatan perorangan.
3. Variasi penggunaan alat bantu pembelajaran.
Merupakan suatu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran. Konsep yang sukar dan membosankan untuk disimak menjadi menarik jika disajikan dengan menggunakan media dan alat yang tepat.
Sesuai dengan variasi tersebut maka variasi penggunaan alat bantu pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat.
b. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat didengar.
c. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat diraba dan dimanipulasi.
C. Prinsip Penggunaan.
Agar variasi dapat berfungsi secara efektif, guru perlu memperhatikan prinsip penggunaan sebagai berikut:
1. Variasi yang dibuat harus mengandung maksud tertentu serta sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, karakteristik kemampuan siswa, latar belakang sosial budaya, materi yang sedang disajikan, dan kemampuan guru menciptakan variasi tersebut.
2. Variasi harus berlangsung secara lancar dan berkesinambungan, hingga tidak merusak suasana kelas, dan tidak menganggu jalannya kegiatan belajar.
3. Variasi harus terjadi secara wajar, tidak berlebihan sehingga tidak menganggu terjadinya proses belajar.
4. Keterampilan menjelaskan.
Dalam buku Sri Anitah (2008:7.54) Istilah menjelaskan sering dikacaukan dengan menceritakan.
Kegiatan menjelaskan bertujuan untuk:
1. Membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, dalil, dan sebagai secara objektif dan berbalar.
2. Membimbing siswa menjawab pertanyaan "mengapa" yang muncul dalam proses pembelajaran.
3. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berpikir yang lebih sistematis.
4. Mendapatkan balikan dari siswa tentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang dijelaskan an untuk mengatasi salah pengertian.
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penalaran dalam penyelesaian ketidakpastian.
Daftar Rujukan
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Suwarna. 2013. Modul Pelatihan Pengembangan Keterampilan Dasar Pengembangan Keterampilan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Dalam Sri Anita(2008:7.1) Mengajar merupakan satu perkerjaan profesional, yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Keterampilan dasar mengajar merupakan satu keterampilan yang menuntut latihan yang terprogram untuk dapat menguasainya. Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara lebih efektif. Jenis-jenis keterampilan Dasar Mengajar :
1. Keterampilan bertanya.
Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang paling sederhana dibandingkan dengan keterampilan lainnya.
A. Rasional
Kegiatan bertanya dilakukan oleh semua orang tanpa memandang batas umur. Anak kecil sering mempertanyakan hal-hal yang ingin diketahuinya, bahkan pada masa perkembangan anak ada masa yang disebut "masa apa itu" yaitu masa anak kecil mempertanyakan segala sesuatu yang dilihatnya. Pada umumnya, tujuan bertanya adalah untuk memperoleh informasi, Namun, kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru, tidak hanya bertujuan untuk memperoleh informasi. Tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Yang lebih penting adalah untuk mendorong para suswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
B. Definisi dan fungsi pertanyaan.
Menurut G.A. Brown dan R. Edmondson (1984) dalam buku Sri anita(2008:7.6) mendefinisikan pertanyaan sebagai "segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan). Fungsi pertanyaan menurut Turney (1979) dalam buku Sri Anita (2018:7.7) adalah sebagai berikut :
1. Membangkitkan minat dan keingintahuan siswa tentang suatu topik.
2. Memusatkan perhatian pada masalah tertentu.
3. Mengalakkan penerapan belajar aktif.
4. Merangsang siswa mengajukan pertanyaan sendiri.
5. Memberi kesempatan untuk siswa berdiskusi.
C. Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya.
1. Keterampilan Bertanya Dasar.
a. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat.
b. Pemberian acuan .
c. Pemusatan.
d. Pemindahan giliran.
e. Penyebaran.
2. Keterampilan Bertanya Lanjut.
a. Pengubahan tuntunan kognitif dalam menjawab pertanyaan.
b. Pengaturan urutan pertanyaan.
c. Penggunaan pertanyaan pelacak
d. Peningkatan terjadinya interaksi.
D. Prinsip Penggunaan.
1. Keangatan dan keantusiasan.
2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan Berikut:
- Mengulangi pertanyaan sendiri
- Menjawab pertanyaan sendiri
- mengulangi jawaban siswa
3. Memberikan Waktu berpikir.
4. Mempersiapkan pertanyaan pokok yang akan diajukan.
5. Menilai pertanyaan yang telah diajukan.
2. Keterampilan Memberi Penguatan.
A. Pengertian dan Tujuan.
Dalam buku Sri Anitah (2008:7.25) Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningatnya perilaku/perbuatan yang dianggap baik. Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:
1. Meningkatkan perhatian siswa.
2. Membangkitkan dan memelihara motivasi.
3. Memudahkan siswa belajar.
4. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang positif.
5. Menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa.
6. Memelihara iklim kelas yang kondusif.
B. Komponen Keterampilan Memberi Penguatan.
1. Penguatan verbal.
Penguatan verbal merupakan penguatan yang paling mudah digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat diberikan dalam bentuk komentar, pujian, dukungan, pengakuan atau dorongan yang diharapkan dapat meningkat tingkah laku dan penampilan siswa.
2. Penguatan Nonverbal.
Penguatan nonverbal dapat ditunjukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
a. Mimik dan gerakan badan.
b. Gerakkan mendekati
c. Sentuhan
d. Kegiatan yang menyenaangkan.
3. Penguatan Tak Penuh.
Penguatan tak penuh diberikan untuk jawaban/respon siswa yang hanya sebagian benar dan sebagiannya harus di perbaiki.
C. Prinsip Penguatan.
1. Kehangatan dan keantusiasan.
2. Kebermaknaan
3. Menghindari penggunaan respons yang negatif.
3. Keterampilan mengadakan variasi.
A. Pengertian dan Tujuan.
Dalam buku Sri Anitah (2008:7.38) Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan/dibuat untuk memberikan kesan yang unik.
Variasi didalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal berikut:
1. Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar.
2. Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu.
3. Mengembangkan keinginan siswa untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru.
4. Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam.
5. Meningkatkan kadar keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
B. Komponen-Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi.
1. Variasi dalam gaya mengajar.
Gaya mengajar seorang guru sering dikaitkan dengan kepribadian guru tersebut sehingga sering terdengar diantara para siswa bahwa guru A selalu duduk ketika berbicara, guru B sering marah-marah, guru C suka bergurau dan sebagainya.
a. Variasi suara.
b. Pemusatan perhatian
c. Kesenyapan
d. Mengadakan kontak mata
e. Gerakan badan dan mimik
f. Perubahan dalam posisi guru.
2. Variasi pola interaksi dan kegiatan.
Pola interaksi dalam kegiatan pembelajaran dapat bervaroaso dari yang paling didominasi guru sampai yang berpusat pada siswa sendiri. Dilihat dari pengorganosasian siswa, pola interaksi dapat dibedakan atas pola interaksi klasikal, kelompok, dan perorangan. Berikut ini diberikan berbagai contoh variasi pola interaksi dan kegiatan:
a. Kegiatan klasikal
b. Kegiatan kelompok kecil
c. Kegiatan berpasangan.
d. Kegiatan perorangan.
3. Variasi penggunaan alat bantu pembelajaran.
Merupakan suatu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran. Konsep yang sukar dan membosankan untuk disimak menjadi menarik jika disajikan dengan menggunakan media dan alat yang tepat.
Sesuai dengan variasi tersebut maka variasi penggunaan alat bantu pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat.
b. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat didengar.
c. Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat diraba dan dimanipulasi.
C. Prinsip Penggunaan.
Agar variasi dapat berfungsi secara efektif, guru perlu memperhatikan prinsip penggunaan sebagai berikut:
1. Variasi yang dibuat harus mengandung maksud tertentu serta sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, karakteristik kemampuan siswa, latar belakang sosial budaya, materi yang sedang disajikan, dan kemampuan guru menciptakan variasi tersebut.
2. Variasi harus berlangsung secara lancar dan berkesinambungan, hingga tidak merusak suasana kelas, dan tidak menganggu jalannya kegiatan belajar.
3. Variasi harus terjadi secara wajar, tidak berlebihan sehingga tidak menganggu terjadinya proses belajar.
4. Keterampilan menjelaskan.
Dalam buku Sri Anitah (2008:7.54) Istilah menjelaskan sering dikacaukan dengan menceritakan.
Kegiatan menjelaskan bertujuan untuk:
1. Membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, dalil, dan sebagai secara objektif dan berbalar.
2. Membimbing siswa menjawab pertanyaan "mengapa" yang muncul dalam proses pembelajaran.
3. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berpikir yang lebih sistematis.
4. Mendapatkan balikan dari siswa tentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang dijelaskan an untuk mengatasi salah pengertian.
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penalaran dalam penyelesaian ketidakpastian.
Daftar Rujukan
- Anitah Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Suwarna. 2013. Modul Pelatihan Pengembangan Keterampilan Dasar Pengembangan Keterampilan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Langganan:
Komentar (Atom)